Download best wordpress themes.
Best wordpress themes.

Panduan Halo Balita (Jilid Spiritual)

5 Jilid SPIRITUAL

Jilid – jilid yang dikelompokkan ke dalam kelompok spiritual ini, berisi cerita-cerita yang membantu anak mengenal nilai-nilai dasar agama serta praktik-praktik ibadah.

Aku Sayang Allah

Aku Sayang Allah

Aku Sayang Allah

Tujuan :

  • Mengenalkan anak kepada Allah, Pencipta alam Semesta.
  • Menumbuhkan rasa sayang kepada Allah dalam diri anak.

Isi :

  • Anak merasa bahwa Allah adalah Pencipta dirinya serta alam semesta.
  • Anak menyadari bahwa Allah ada dalam kehidupan sehari-hari.

Resensi :

Sali jalan-jalan ke kebun binatang bersama Ayah dan Ibu. Ketika melihat Jerapah yang lehernya panjang ibu mengucap “Subhanallah”. Sali yang lucu berkata kepada ibunya :”Bu, kalau melihat jerapah bilang Subhanallah ya?”.. Ibu menjelaskan penggunaan kalimat Subhanallah. Tak lama kemudian Sali langsung mengucapkan kalimat Subhanallah ketika melihat Gajah yang besar.

Continue Reading »

Panduan Halo Balita (Jilid Value)

11 Jilid VALUE

Jilid-jilid pada kelompok value ini, berisi cerita-cerita yang mendorong anak untuk menginternalisasi nilai moral, seperti menghormati orang tua, menyayangi sesama, sikap sabar dan sopan santun.

Aku Anak Pemberani

Aku Anak Pemberani

Aku Anak Pemberani

Tujuan :

  • Melatih anak mampu mengatasi situasi yang dianggap menakutkan

Isi :

  • Anak berani melakukan hal yang baik.
  • Anak malu melakukan sesuatu yang tidak baik.

Resensi :

Awalnya Saliha adalah anak pemalu. Namun Saliha terus dipuji oleh Ibu, seperti ketika malu tidak punya baju baru ketika akan ke pesta ulang tahun Putri, temannya. Selain itu, Saliha selalu berusaha untuk memberanikan diri, ketika tidak tahu jalan, dan ketika menyanyi di pesta ulang tahun. Ketika Budi, temen Saliha menyembunyikan sandal Siti, Saliha dengan berani meminta Budi untuk mengembalikan sandal Siti. Budi menjadi malu dan meminta maaf. Hebat ! Sekarang, Saliha jadi anak pemberani.

Continue Reading »

Anak

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
mereka adalah anak-anak kehidupan
yang rindu akan dirinya sendiri

Walau terlahir melalui engkau .. mereka bukan darimu
Walau mereka ada bersamamu … mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu .. bukan pikiranmu.
Karena mereka pemilik pikiran mereka.

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh … bukan jiwa mereka
karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok ..
yang tak pernah dapat engkau kunjungi …
walau dalam mimpi.

Engkau bisa menjadi mereka …
tetapi jangn coba mencadikan mereka seperti dirimu
Karena hidup tak berjalan mundur
dan tidak pula berada di masa lalu.

Engkaulah busur2busur tempat anak-anakmu
menjadi anak panah yang hidup … diluncurkan.

Sang pemanah telah membidik arah keabadian …
dan ia meregangkan kekuatannya
sehingga anak0anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.

JAdikanlah tarikan tangan sang pemanah sebagai kegembiraan …
Karena ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang
maka anak-anak panah akan mencintai busur
yang telah melesatkannya dengan sepenuh kekuatan

(Khalil Gibran)

The Reading Mother

Kau mungkin punya simpanan kekayaan berlimpah ruah :

Peti-peti perhiasan dan pundi-pundi emas.

Namun kau tidak akan pernah bisa lebih kaya dari aku –

Aku punya Bunda yang membacakan aku buku.

–Strickland Gillilan

Jujurlah, Apa yang kau ajarkan untuk anak-anak kita…..

Sejauh-jauh kaki melangkah, umur kita akan berakhir juga. Kelak, di suatu waktu yang kita tak pernah tahu kapan datangnya, Allah Ta’ala akan mengirimkan utusan-Nya untuk menemui kita dan mengantarkan ruh kita ke hadapan-Nya. Akan ada tangis dan rasa kehilangan bagi orang-orang yang kita tinggalkan, meski tangis itu mungkin tertahan di dalam dada. Akan ada doa-doa yang diucapkan sebagai ungkapan cinta yang begitu besar, meski sebesar-besarnya cinta mereka tak akan mau menemani kita dalam kubur. Maka ketika itu, segala bentuk penghormatan tak berguna lagi. Hanya tiga yang masih bisa kita harapkan selain amal-amal yang sudah selesai pencatatannya: ilmu yang manfaat, amal jariyah, dan anak-anak shalih yang mendoakan.
Kalau hari ini kita berharap mereka menjadi orang-orang hebat, punya gelar yang berderet-deret panjang, memiliki catatan prestasi yang tinggi, dan di waktu sekolah mereka selalu menjadi bintang kelas, maka itu semua tak lagi kita butuhkan ketika malaikat Allah lainnya datang bertamu kepada kita untuk memeriksa amal-amal kita. Tepuk tangan tak lagi indah untuk dikenang jika ia hampa dari kebaikan. Prestasi menakjubkan tak lagi membahagiakan jika tak disertai dengan keimanan. Bahkan doa-doa yang mereka panjatkan, tak ada artinya bagi kita jika tak disertai keshalihan. Bukankah doa-doa mereka hanya akan berguna apabila dipanjatkan dengan jiwa yang penuh keshalihan? Waladun shaalihun yad’ulah bermakna keshalihan yang diiringi dengan kesediaan untuk mendoakan orangtuanya.
Tak ada gunanya mereka berdoa untuk kita bila pada diri mereka tak ada keshalihan, sebab shalih dulu baru doa. Andaikata anak-anak kita hidupnya penuh keshalihan, itu sudah cukup untuk mengantarkan kita pada kemuliaan di akhirat. Sebab setiap kali mereka melakukan ibadah dan amal shalih, selalu ada kebaikan yang tercatat untuk kita. Bukankah kita yang mengajarkan kebaikan pada mereka? Dan bukankah kalau kita mengajarkan kebaikan, lalu orang mengikutinya, maka bagi kita pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya?
Wallahu a’lam bishawab.
Teringatlah saya dengan firman Allah ‘Azza wa ta’ala,
“Surga’Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang shalih di antara orangtua mereka, isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke ternvat-tempat mereka dari semua pintu.” (Ar-Ra’du: 23).
Lihatlah! Allah sudah ciptakan surga ‘Adn untuk kita dan anak-anak kita. Sudah Ia ciptakan pula malaikat-malaikat yang akan masuk dari semua pintu untuk melayani segala yang kita mau. Sudah Ia ciptakan semua itu untuk kita dan anak-anak kita yang shalih. Tetapi sudah shalihkah kita sehingga berani berharap anak-anak yang shalih? Rasanya masih jauh. Maka kalau tanpa pertolongan Allah, apakah yang bisa kita harapkan dari dunia ini, sementara televisi selalu mengajak kita untuk lupa? Bahkan tayangan-tayangan yang disebut religius pun, yang mereka mempersaksikan isinya kepada Allah, lebih banyak yang meruntuhkan iman daripada yang membaguskannya.
Ah, diam-diam saya teringat dengan firman Allah ketika memperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi w sallam:
“Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menakjubkan hatimu, dan dipersaksikanmjt kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia aMA penentang yang paling keras.” (Al-Baqarah: 204).
Berhentilah berharap dari apa yang tidak kita upayakan. Berhentilah bermimpi tentang televisi yang bergizi untuk kesempurnaan ruhiyah anak-anak kita, kecuali jika engkau berbuat yang nyata. Kelak kita tak bisa mengajukan alasan kepada Allah di Yaumil-Hisab apabila anak kita tergerogoti imannya dan rapuh jiwanya gara-gara televisi. Tetapi apakah yang bisa kita andalkan selain mengharap pertolongan Allah, jika tanpa melihat pun tayangannya akan mempengaruhi anak kita secara diam-diam? Maka, apabila sekali waktu dadamu terasa sesak mendengar perkataan yang tidak layak dari anak-anak, mohonkanlah kepada Tuhanmu dengan jiwa yang menangis. Mohonkanlah dengan sungguh-sungguh, semoga setiap letih dan sedihmu akan mengantar mereka pada kemuliaan. Sesungguhnya di bawah telapak kakimu, wahai para ibu, ada surga anak-anakmu. Dan pada ruang batinmu, terletak keselamatan mereka di dunia hingga akhirat.
Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Jika yang ada di ruang batinmu adalah dunia, maka ketika mengajarkan agama pun, dunia yang sampai pada mereka. Kita ajarkan berdoa pada mereka, tetapi yang mereka harap dari doa itu adalah dunia. Mereka rajin berpuasa Senin dan Kamis, tetapi mereka menahan lapar bukan karena mencintai sunnah Nabi, melainkan agar hajat-hajatnya pada dunia tercapai dan harapannya terkabul.
Sebaliknya jika yang ada di ruang batinmu adalah harapan pada kehidupan yang kekal di kampung akhirat, insya Allah kemana pun mereka berjalan, di situlah mereka menghadapkan wajahnya kepada Allah. Inilah yang akan mengawal mereka, mengawasi perbuatannya, dan menjaga tindakannya. Dan inilah sebaik-baik pengawasan, sebab ia tidak mempersyaratkan hadirnya kita setiap saat. Alangkah banyak orangtua yang menggunakan kekuatannya untuk membuat anak tunduk. Sementara mereka lupa bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga, suara yang keras ini akan sayu-sayup juga, dan mata yang selalu awas ini akan kehilangan kekuatannya juga; baik karena anak-anak yang semakin jauh ruang geraknya atau karena mata kita telah dimakan usia.
Mengingat itu semua, maka siapkanlah anak-anak itu untuk hidup di negeri akhirat. Apa pun yang engkau kerjakan, jadikan ia sebagai jalan untuk mempersiapkan mereka menghadap Tuhannya. Kalau di saat dinginnya malam menusuk tulang mereka merepotkan kita, maka ikhlaskanlah kerepotan itu. Semoga Allah cukupkan kerepotan sampai di situ. Tidak berpanjang-panjang hingga akhirat. Sebab di hari kiamat, setiap kerepotan tak dapat diselesaikan, kecuali apabila kita mendapat syafa’at.
Kalau engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu untuk anakmu, aduklah ia dengan sungguh-sungguh sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk. Kalau engkau menyuapkan makanan untuknya, maka mohonlah kepada Allah agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh mereka akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka, dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama Allah. Semoga dengan itu setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka bersemangat untuk senantiasa menuntut ilmu, menunaikan amanah dan meninggikan nama Tuhannya, Allah ‘Azza wa Jalla.
Kalau setiap kali ada yang engkau inginkan dari dunia ini, perdengarkanlah kepada mereka pengharapanmu kepada Allah, sehingga mereka akan dapat merasakan sepenuh jiwa bahwa hanya kepada Allah kita meminta. Sesungguhnya anak-anak yang kuat jiwanya adalah mereka yang yakin kepada janji Tuhannya. Mere¬ka tidak menghiba pada manusia, dan tidak takjub pada nama-nama orang yang dise-but dengan penuh pujian. Hari ini, anak-anak kita sedang dilemahkan oleh media. Mereka diajak menak-jubi manusia. Padahal manusia yang ditakjubi itu tak kuasa untuk membuat diri mereka sendiri bersinar. Padahal untuk bisa disebut idola, mereka membutuhkan dukungan suara-suara kita.
Ajarkan pada mereka keinginan untuk berbuat bagi agama Allah. Bangkitkan pada diri mereka tujuan hidup yang sangat kuat. Jika dua perkara ini ada pada diri mereka, insya Allah mereka akan tumbuh sebagai orang-orang yang penuh semangat. Kecerdasan mereka akan melejit; berkembang pesat dan bakatnya akan tumbuh dengan baik. Kalau saya boleh menengok teori kecerdasan majemuk, ada kecerdasan yang apabila berkembang akan merangsang kecerdasan lain untuk berkembang lebih pesat. Sementara pada anak-anak yang usianya telah tidak memungkinkan lagi mengembangkan kecerdasan, maka potensi kecerdasan yang ada akan melejit secara lebih optimal. Nah, kecerdasan yang dapat merangsang jenis-jenis kecerdasan lain itu adalah kecerdasan eksistensial. Intinya pada kepekaan untuk merasakan, menghayati dan memahami tujuan hidup di atas pijakan keyakinan terhadap Tuhan.
Tanamkan juga pada diri mereka kesadaran untuk belajar menemukan fardhu kifayah di luar shalat jenazah yang menyangkut kepentingan ummat ini, insya Allah yang demikian ini akan mengasah kepekaannya terhadap tanggung jawab. Setiap saat ia belajar berpikir apa yang bisa dan sebaiknya dikerjakan bagi umat ini, sehingga membuat potensinya terasah dan kreativitasnya berkembang. InsyaAllah.
Demikianlah. Setelah Allah berikan dunia kepada kita, maka apalagikah yang kita harapkan kecuali akhirat?*

Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi November 2005

Berseteru Karena Cemburu

Sejak awal Tia tidak ingin repot dengan urusan anak yang riuh rendah. Tetapi keinginan untuk punya anak ada. Betapa pun, rasanya belum lengkap pernikahan tanpa hadirnya keturunan. Itu sebabnya, dari awal menikah Tia merasa perlu membicarakan dengan suaminya.
“Saya mau punya anak satu,” kata Tia, “Biar bisa mendidik dengan lebih baik, bisa memberi perhatian yang optimal, dan mengembangkan seluruh potensi anak.” Tia berharap-harap cemas menunggu reaksi suami¬nya. Tia sengaja mendahului mengutarakan gagasannya karena ia merasa masalah ini sangat prinsip baginya. Entah kenapa, suaminya masih diam saja.
“Kalau Mas sendiri ingin punya anak berapa?” tanya Tia.
“Saya sih….,” kata suaminya,”… pingin punya anak sembilan.”
Jawaban yang tak terduga. Jawaban yang sama sekali tak diharapkan Tia. Begitu mengejutkannya, sehingga Tia tak bisa dengan cepat menyikapinya dengan baik. Salah satunya karena ia tahu jawaban suaminya sangat serius.
Ah…, tetapi kebahagiaan pengantin baru dengan cepat mengalahkan semua kerisauannya. Dan tak lama, ia pun mengandung anak pertama; anak yang kemudian ia perlakukan sebagai anak tunggal. Selalu mencurahkan perhatian besar dan kadang lupa membedakan antara kasih-sayang dengan memanjakan.
Tanpa sadar, Tia sering mengajak bercanda anaknya yang semata wayang dengan kata-kata yang menjadikan anak merasa sebagai satu-satunya. Tak pernah ia mengajak anak untuk membayangkan indahnya punya saudara. Ketika anak mulai beranjak besar, Tia mulai merasa kerepotan. Satu anak saja sudah sangat repot, apalagi kalau dua. Tia coba yakinkan suaminya ketika lelaki yang menikahinya empat tahun lalu itu mulai mengajaknya bicara tentangkemungkinan punya anak lagi. Sekali lagi, Tia ingin menunjukkan kepada suaminya, repot sekali punya anak dua kalau yang pertama saja belum mandiri.
“Nantilah, Mas kalau anak kita sudah usia empat tahun. Kalau adek sudah masuk TK, kita bisa merencanakan untuk punyaanak lagi,” kata Tia. Suaminya setuju. Dan Tia kembali menghadapi kesibukan melayani anaknya yang semata wayang, Dita.
Sudah tiga tahun usia Dita sekarang. Aduh, anak yang manis itu kini sangat menyusahkan. Mandi susah, makan susah, sikat gigi apalagi. Kalau sudah di depan TV, malas sekali beranjak meski sekedar untuk mengambil sendok. Lagi-lagi Tia dan suaminya yang harus sibuk dengan semua itu, tanpa mengingat bahwa anak harus mulai belajar mandiri. Kadang kita sulit membedakan antara menyayangi dan memanjakan, sehingga karena takut memanjakan kita kurang memberikan kasih-sayang pada anak-anak kita, Sebalik-nya, karena ingin menyayangi, kita keliru memanjakan.
Menjelang anaknya berusia empat tahun, Tia mulai hamil. Saat anaknya memasuki usia 4,5 tahun lebih sedikit, Tia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat, Tangisnya keras memecah kesunyian. Hari-hari pertama, Dita sangat senang punya adik, Tetapi setelah satu minggu, kecemburuannya mulai tampak. Setelah adiknya lahir, perhatian ibunya menjadi jauh berkurang. Dita mulai menyerang adiknya. Tak cukup dengan itu, belakangan Dita menunjukka perlawanan. Kerapkali ia melarang ibunya meninabobol kan si adik. “Adik sama bapak aja,” teriak Dita.
Tak pelak, suami Dita yang harus menggendong dan menangani si kecil kalau Dita sedang menampakkan perlawanannya. Tia sendiri kerap menyalahkan keingnan suaminya untuk punya anak lagi, sehingga menjadi pembenar Dita untuk menunjukkan perlawanan. Keinginan Dita untuk menguasai ibunya hanya untuk dia saja, seakan gayung bersambut dengan sikap ibunya.
Tetapi…
Tia akhirnya merasa sangat kerepotan. Bagaimara pun juga, ia harus memberi perhatian kepada anak lelakinya. Kalau Dita terus mengganggu, tak bisa Tia mengurus si kecil dengan baik. Masalahnya, Dita sudah terlanjur “menguasai ibunya” kalau sedang minta diperhatikan. Semakin dituruti keinginannya, rasa cemburu Dita terhadap adiknya justru tampak semakin besar. Bukan semakin reda. Sekarang, baru menyusui si kecil sebentar saja, Dita sudah menunjukkan marahnya. Sudah tak kurang-kurang Tia menyampaikan kepada Dita bahwa sebagai kakak, Dita harus sayang sama adik Tetapi Dita tampak semakin keras saja. Rasa cemburunva semakin menyala-nyala.
Apa yang salah sebenarnya dengan Dita? Tak ada yang salah. Dita berseteru dengan adiknya karena cemburu. Bahasa psikologinya sibling rivalry (persaingan antar saudara). Rasa cemburunya besar, dan bahkan cenderung menolak adik, karena ia memang diperlaku-kan sebagai anak tunggal oleh ibunya. Pada saat yang sama, Tia sebagai ibunya tidak mempersiapkan anak untuk memiliki adik. la tidak menumbuhkan keinginan, harapan, dan bayangan tentang apa yang bisa Dita lakukan untuk adiknya kelak. la juga tidak menata mental anak menghadapi perubahan menjelang adiknya lahir. Seperti Tia, banyak di antara kita yang tidak merencanakan kelahiran dengan baik. Anak-anak kita punya adik karena adiknya memang sudah lahir. la lahir begitu saja. Dan tiba-tiba sesudah kelahiran, segala sesuatu berubah. Kita sendiri juga berubah. Berubah karena hams ada yang kita hadapi: anak kita yang baru lahir dengan segala tangis dan pipisnya. Kita berubah bukan karena secara sengaja merencanakan untuk berubah, mengiringi kelahiran anak kita.
Ujung-ujungnya, kita terjebak oleh ketakutan dan mendapat pembenaran dari repotnya menangani anak. Punya anak satu saja repot, apalagi dua. Punya anak dua lebih repot, kok mau tiga. Padahal hitung-hitungannya tidak demikian. Punya anak satu memang repot, karena sumber perhatian anak hanya dari orangtua. Punya anak dua? Sama saja. Sama-sama repot, karena mereka cenderung bersaing berebut perhatian. Tapi tidak kalau anak sudah tiga atau empat. Mereka akan belajar bekerja sama, bermain bersama-sama dan sesekali bertengkar bersama-sama. Tetapi bukankah melalui peristiwa semacam ini mereka belajar keadilan? Sayangnya sumbu emosi kita begitu pendek, sehingga mudah naik pitam saat mereka bertengkar. Apalagi kalau kita sedang capek. Saya tidak berpanjang-panjang dengan ini, sebab masalah paling pokok umumnya adalah sikap kita yang tidak mau direpoti oleh anak. Berapa pun anak yang kita asuh kalau kita memang tidak mau repot, kehadiran mereka akan sangat merepotkan kita, sekalipun mereka sudah menjadi anak-anak manis yang sangat menyenangkan. Seperti halnya keengganan kita menemani anak dengan berlindung di balik ungkapan terindah yang pernah saya dengar,
“Yang paling penting kan kualitas, bukan banyaknya waktu yang kita habiskan bersama anak.” Kita ungkapkan itu dengan mantap, tetapi lupa menakar waktu berkualitas itu yang seperti apa. Kita juga lupa bertanya, waktu berkualitas itu menurut kita atau menurut anak. Jangan-jangan yang kita anggap .vaktu berkualitas bersama anak, sesungguhnya bagi mereka sama saja dengan waktu-waktu lain. Sama-sama tak berarti. Sama-sama membosankan.
Berawal dari sikap tidak mau direpoti anak, jalan pintas kerap menjadi pilihan yang kita ambil tanpa sadar. Begitu anak menangis, atau bikin kita merasa repot. Termasuk repot karena pertanyaan-pertanyaan cerdas anak, cepat-cepat kita berikan televisi pada mereka. Kita berikan mereka mimpi-mimpi tentang asyiknya melihat benda ajaib bernama televisi, “E, coba. Kita lihat, yuk….Bagus lho acara TV-nya.” Anak pun segera bergegas lari mematut diri di depan TV. Lama sekali. Begitu Iamanya
sampai-sampai kita lupa bahwa amat banyak hal yang telah mempengaruhi otak dan diri anak, hingga ketika berapa waktu kemudian tampak perilaku yang tidak menenteramkan hati, kita marah pada acara TV. Anehnya, kita tetap rawat dan sayang-sayangi kotak kaca ajaib itu.
Ah…, betapa aneh-nya kita ini. Merusak tapi dicintai. Atau saya yang semakin bodoh? Tidak mampu memahami bahwa hidup di dunia modern memang harus memiliki semua yang disebut modern?
Baiklah, kita kembali berbincang tentang TV. Sekurangnya ada dua hal yang membuat kita perlu mempertimbangkan kembali kehadiran TV di rumah kita, sekurangnya mengurangi kehadirannya dalam kehidupan anak kita. Pertama, televisi menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, dan merusak terutama sekali kecerdasan spasial di otak sebelah kanan. Kedua, semakin banyak nonton TV, anak semakin kurang bergerak. Padahal, seperti yang ditulis Carla Hannaford, Ph.D. dalam Smart Moves: Why Learning is not All in Your Head, gerakan membangkitkan dan mengaktifkan kapasitas mental kita. Gerakan menyatu-kan dan menarik informasi-informasi baru ke dalam jaringan neuron kita. Gerakan sangat vital bagi semua tindakan untuk mewujudkan dan mengungkapkan pembelajaran kita, pemahaman kita dan diri kita.
Alhasil, jangan terkejut jika anak kita mengalami gangguan mental maupun gangguan belajar, sementara kita tahu dengan pasti bahwa ia sejak kecil selalu ditimang-timang oleh TV. Jangan bertanya, gen siapa yang menyebabkan anak bermasalah sehingga menampakkan perilaku seperti anak autis jika kitalah sebenarnya sebagai orangtua yang memperlakukan mereka secara autis. Kita jarang mau bicara karena setiap kali mereka rewel, cepat-cepat kita nyalakan TV.
Tetapi bukan ini perbincangan kita saat ini. Saya sebenarnya cuma mau bertutur bahwa kecemburuan anak terhadap adiknya, Iebih-lebih yang sampai pada tingkat menolak, sebenarnya kerapkali bersumber pada sikap awa1 kita. Saya cuma mau berbincang bahwa tingkah laku mereka yang sangat merepotkan, tidak jarang justru berawal dari sikap kita yang tidak mau direpoti anak. Meski pada sebagian besar kasus, perilaku mereka yang bikin kita geleng-geleng kepala dan membuat ibunya mengelus-elus dada sebenarnya karena kecerdasan mereka yang luar biasa. Pada usia di bawah sepuluh tahun, kadang bahkan berlanjut hingga usia sesudahnya, manifestasi kecerdasan itu adalah gerakannya yang sangat aktif. Sesudahnya adalah kemampuan berpikir yang sangat kritis, cerdas dan kreatif.
Emmm… jangan salah paham. Saya bukan orangtua yang luar biasa. Saya masih sering merasa betapa merepotkannya mereka. Saya juga masih sering marah. Tetapi tak ada lagikah bagi kita ruang untuk saling bertegur-sapa, saling mengingatkan, saling menasehati dan termasuk saling memberitahu agar tidak melemahkan diri sendiri dengan sumber pengaruh yang kita tidak mampu mengendalikan isinya sepuluh menit yang akan datang, yakni televisi?*

Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi Desember 2005

AJARKAN JIHAD SEJAK DINI

Toleransi tanpa ketegasan adalah ketidakberdayaan. Sedangkan ketegasan tanpa ilmu adalah keberingasan. Tanpa berpijak pada prinsip yang kokoh dan jelas semenjak dini, anak-anak akan kehilangan orientasi hidup yang menjadikan dirinya bermakna. Betapa banyak bangsa yang meraih kemajuan fisik luar biasa, tetapi jiwa mereka kering dan hidup mereka hampa. Bukankah Jepang mencapai kemajuan dan kemakmuran luar biasa? Tetapi pada saat yang sama, banyak orang mengalami kekosongan makna dalam hidup mereka.

Inikah yang akan kita siapkan untuk anak-anak kita? Ataukah kita siapkan mereka untuk menjadi pewaris bumi yang mampu memakmurkannya dengan ilmu-Nya dan meninggikan kalimat Allah di muka bumi dengan iman dan kesungguhan untuk berdakwah? Ataukah tidak dua-duanya. Kalimat Allah tidak tegak, kemakmuran tidak dapat. Padahal ketika kita berbicara tentang memakmurkan bumi, maknanya tidaklah sesempit dan sedangkal kemakmuran finansial. Tetapi bukan di sini tempatnya untuk berbincang. Kita bertemu sejenak di ruang ini untuk berbincang tentang apa yang harus kita berikan untuk anak-anak kita, agar tidak meninggalkan di belakang kita generasi lemah yang kita khawatiri keadaannya.

Sungguh, kita perlu ajarkan pada anak-anak kita sikap toleran terhadap mereka yang tidak seiman. Tetapi toleransi tanpa ilmu adaiah kelemahan dan rasa rendah diri. Kita merasa menjunjung tinggi toleransi, padahal yang terjadi sesungguhnya adaiah meletakkan keyakinan kita kepada Allah di belakang kita. Kita merasa menegakkan toleransi, padahal yang terjadi sesung¬guhnya menanggalkan pegangan kita pada aqidah yang lurus dan iman yang bersih.

Tidak akan pernah lahir toleransi yang bermartabat kecuali apabila kita yakin bahwa agama ini yang
paling benar. Sangat sulit saya membayangkan seseorang mengimani Tuhan, sementara ia tidak
merasa benar-benar percaya bahwa yang ia imani benar-benar Tuhan. Padahal tanpa meyakini
bahwa agama yang ia peluk adaah yang paling benar, apa pun agama yang ia yakini, maka sesungguhnya ia bukan sedang bertoleransi terhadap pemeluk agama lain. Bukan. Ia tidak risau dengan apa yang terjadi di sekelilingnya karena memang imannya rapuh dan jiwanya gersang.
Wallahu a’lam bishowab.

Jika toleransi kita tegakkan tanpa masing-masing merasa yakin agamanya benar, maka sesungguhnya yang demikian ini adalah jalan menuju tidak adanya keimanan kepada Tuhan. Jika tidak, hanya ada dua kemungkinan; iman kita yang sakit atau kita yang sakit jiwa. Sebab, tidak mungkin jiwa yang sehat meyakini sesuatu sebagai kebenaran dan pada saat yang sama meyakini apa yang ditentangnya sebagai kebenaran juga. Jika sikap beragama yang demikian dianut oleh kebanyakan orang, maka akan kita jumpai masyarakat yang sakit. Ada agama, tetapi ia tidak memberi pengaruh apa pun bagi kehidupan, cara pandang, kejujuran, kesungguhan kerja dan seterusnya. Agama berubah menjadi sekadar gaya hidup, atau bahkan sekadar menjadi upacara yang hanya dibutuhkan ketika manusia lahir, kawin dan mati. Pada tingkat yang lebih parah, agama hanya menjadi upacara pengantar penguburan jenazah.

Jiwa yang sehat serta memiliki kedewasaan beragama akan dapat menghormati keyakinan orang lain. Tidak ada halangan baginya untuk santun terhadap tetang-ganya yang kafir. Syaratnya, ia sendiri orang beriman yang benar-benar meyakini kebenaran agamanya. Tanpa itu, sesungguhnya yang terjadi bukan toleransi., melainkan sikap tidak peduli pada agama. Dan inilah mimpi buruk bagi peradaban sebuah bangsa. Sebab karakter bangsa hanya akan terbangun dengan kuat apabila memiliki pijakan nilai yang kokoh, hidup dan jelas.

Maka…
Tak ada pilihan bagi kita dalam mengajarkan toleransi kecuali dengan menanamkan iman yang kuat di dada anak-anak kita semenjak dini. Tidak akan lahir generasi yang kuat, bermartabat dan mampu menghormati orang lain yang tidak seiman kecuali kita besarkan mereka dengan membiasakan berkata yang benar (qaulan sadiida). Bukankah Allah telah ingatkan kepadamu dalam surat An-Nisaa’ ayat 9.
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatiri keadaannya. Maka, hendaklah mereka berlakwa kepada Allah (fal yattaqullah) dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (wal yaquuluu qaulan sadiida).” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).

Saya tidak memperbincangkan lagi tentang qailan sadiida pada kesempatan kali ini karena kita sudah membicarakan lebih khusus di ruang ini sebelumnya. Karena itu, jika ingin menyegarkan ingatan, periksa kembali tulisan saya bertajuk Qaulan Sadiida. Saya kutip ayat ini untuk menegaskan bahwa generasi yang kuat hanya akan lahir apabila kita besarkan di atas pijakan takwa dan berkata dengan perkataan yang benar (qaulan sadiida). Salah satu makna qaulan sadiida adalah berkata tegas, tidak menutup-nutupi kebenaran. Berpijak pada dua hal inilah akan lahir anak-anak yang kokoh imannya, lembut perangainya dan tegas sifatnya. Ia toleran kepada pemeluk agama lain karena seperti itulah contoh yang diberikan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan karena kerdilnya jiwa, ciutnya nyali dan rusaknya iman.

Ia mampu bersikap tegas karena percaya diri yang tinggi, iman yang bersih dan ilmu yang benar. Bukan karena keberingasan dan kerasnya hati.

Agar anak-anak kita mampu bertoleransi tanpa kehilangan sikap tegas, mereka perlu memiliki keberanian, keyakinan dan ilmu yang mencukupi. Kita perlu ajarkan kepada mereka bagaimana sikap tegas harus ditegakkan agar kelak mereka dapat melindungi dirinya (hifzh an-nafs)’, melindungi hartanya (hifzli al-mal) dan membela agamanya hiifzh ad-dien). Inilah trilogi tujuan syari’ah, dan memahami jihad adalah pintu awal untuk menegakkannya.

Kita perlu menanamkan kepada mereka pemahaman tentang jihad secara utuh. Bukan mengajarkan tentang jihad yang benar dan jihad yang salah, sebab tidak ada jihad yang salah. Kalau kemudian ada yang salah memahami jihad sehingga melakukan tindakan yang keliru, maka ini sebenarnya berpangkal pada tidak utuhnya kita memahami jihad. Terlebih ketika hari ini kita menjumpai banyak sekali istilah yang menggunakan kata jihad sebelum memahami istilah jihad yang sesungguhnya dengan benar, semakin jauhlah kita dari pemahaman tentang jihad secara utuh. Hari ini kita menjumpai ada jihad ekonomi, jihad intelektual, jihad pena dan seribu atau semilyar istilah lain yang meng¬gunakan awalan kata jihad. Jika siapa pun dapat menambahkan kata apa saja sesudah kata jihad, maka apakah yang dapat kita ambil dari makna jihad? Tak ada. Karena kita berjalan dengan pikiran kita sendiri-sendiri, bukan dengan petunjuk yang Allah jamin tidak ada keraguan di dalamnya. Pada gilirannya ini menyebabkan sebagian dari kita menganggap agama tak lagi mencukupi untuk menjawab tantangan zaman dan menyelesaikan persoalan manusia. Padahal pada kitalah kelemahan itu ada. Salah satunya bersumber dari tidak utuhnya pemahaman.

Mengajarkan jihad semenjak dini kepada anak berarti menumbuhkan kepada mereka harga diri dan kepercayaan diri sebagai orang yang beragama. Mereka belajar memiliki rasa tanggung-jawab. Pangkalnya sikap al-wala’ wa al-bara’ yang kuat, ujungnya sikap yang bersungguh-sungguh dalam melakukan setiap amal shalih. Tidaklah kelak mereka menggerakkan pena -jika ia seorang penulis -kecuali untuk mengabarkan kebenaran dan menebar kebaikan. Pada setiap tetes tinta yang dituangkan dengan hati yang hidup dan missi yang kuat, insya-Allah akan lahir kata-kata yang menggerakkan jiwa untuk melakukan kebaikan. Yang demikian ini bukan karena ia melakukan jihad pena, tetapi karena kuatnya al-wala’ wa al-bara’ yang disertai besarnya rasa tanggung-jawab kepada Allah, menjadikan ia tidak membiarkan tintanya tumpah sia-sia.

Tidaklah ia hadir di dunia kecuali untuk menjadi anugerah bagi alam semesta. Ia memberi rasa tenteram bagi tetangganya, sekalipun kafir, bukan karena jihad kemanusiaan. Bukan. Tetapi ia hadir memberi manfaat bagi masyarakat sekelilingnya karena agama kita menuntut ia untuk meneladani perilaku Nabi SAW.

Sewaktu-waktu, ia juga mampu bersikap tegas terhadap orang kafir. Bukan karena benci. Bukan pula karena api permusuhan yang berkobar-kobar tanpa sebab, melainkan karena harus menegakkan kebenaran. Ia datang untuk mengingatkan sambil berharap dapat mengantarkan hidayah. Bukan untuk meluapkan amarah yang membabi buta.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi Januari 2006

Memacu Anak Berpikir Kreatif

“Mmm… Coba irfan kasih tahu sama Ibu. Mengapa kita menyirami tanaman setiap hari?” tanya Hani sore itu, ketika ia menyirami tanaman-tanaman di halaman depan rumah.
“Biar basah…,” sahut Irfan.
“Iya. Terus, biar apa lagi?” tanggap Hani. Sejenak ia menghentikan tangannya yang sedang menyiramkan air.
“Biar… Biar tanamannya bisa minum ya, Bu?” jawab Irfan setengah bertanya.
“Iya. Tanaman juga butuh minum seperti kita. Kalau kita tidak memberi minum kepada tanaman, nanti tanamannya layu. Seperti Mbak Nida’ waktu sakit kema-rin, “Hani menjawab sambil sejenak memandang wajah anaknya yang baru menginjak usia 4 tahun.
“Kok tanaman itu nggak pernah makan? Tanaman nggak pernah lapar ya, Bu?”
Pertanyaan Irfan melompat begitu saja. Bahagia sekali ia mempunyai ibu yang sabar mengantarkannya kepada pintu-pintu pengetahuan. Ibu senantiasa membuka cakrawala berpikirnya.

Percakapan di atas tidak sungguh-sungguh terjadi. Hani dan putranya, Irfan, hanyalah nama rekaan. Tetapi ibu-ibu yang seperti Hani bukan tidak ada. Anak-anak membutuhkan ibu-ibu yang seperti Hani.

Anak pada usia 3,5-5,5 tahun perlu mendapatkan rangsangan berpikir konseptual yang memadai dari lingkungannya. Ibu adalah orang pertama yang sangat dinanti kelembutan dan kecerdasannya dalam mengan-tarkan anak kepada latihan berpikir konseptual.

Melihat Masalah Lebih Sederhana
Anda pernah menghadapi masalah dan sulit menyelesaikan? Seringkali seseorang menemui masalah berat. Ada banyak informasi sebenarnya yang dapat ia gunakan untuk
memecahkan masalah. Tapi yang sulit justru bagaimana menghubungkan berbagai informasi itu dengan masalah yang sedang dihadapi.

Seseorang yang memiliki kemampuan berpikir konseptual akan lebih mudah menghubungkan berbagai informasi yang ia punyai. Kemampuan menghubungkan bermacam-macam informasi ini merupakan hal yang sangat mendasar dalam proses berpikir, sehingga orang tidak mudah bingung dan cemas.

Anak merupakan masa eksplorasi. Pada masa ini anak sedang mengalami perkembangan kemampuan berpikir yang sangat cepat. Ia membutuhkan sebanyak mungkin informasi yang ada di lingkungan sekitar agar perkembangan kemampuan berpikirnya semakin cepat. Merangsang anak berpikir konseptual akan sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian akan di masa depan.

Seseorang yang memiliki kemampuan berpikir konseptual juga lebih mampu mengenali dan mengelom-pokkan informasi-informasi, sehingga informasi yang kompleks menjadi lebih sederhana dipahami. Inilah yang dimaksudkan dengan organisasi informasi.
Keuntungan berikutnya, sudah barang tentu anak cenderung akan tumbuh menjadi orang yang memiliki kemampuan berpikir inovatif. Kematangan konseptual membawa anak kelak mampu berpikir besar. Hal-hal yang di mata orang lain tidak bermakna – terkadang sukar dimengerti-bagi dia justru mendatangkan ide-ide segar yang kreatif. Para ahli menyebut manfaat terakhir dari berpikir tinggi (konseptual) ini sebagai berpikir non-algoritmik.

Percakapan antara Hani dan putranya, Irfan, dalam contoh di atas menggambarkan proses pelatihan berpikir konseptual yang diajarkan oleh Hani kepada Irfan. Anak belajar merumuskan konsep tentang air, tumbuhan, dan lingkungan sekitar.

Merangsang anak usia 4 tahun untuk berpikir tinggi (konseptual) bisa dilakukan dengan berbagai cara. Setidaknya ada tiga cara yang dapat dipakai oleh orang tua dalam memacu kemampuan berpikir anak, yang saya uraikan di bawah ini.

Definisi Teoritikal
Definisi teoritikal dapat juga disebut definisi makna atau definisi pengertian. Orangtua dapat menanyakan kepada si kecil apakah arti sayang? Apakah yang dimaksud dengan dingin? Atau, apakah yang dimaksud dengan bola?

Sampaikan pertanyaan-pertanyaan itu dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.
Misalnya, “Coba, Nisa’ tahu bola?”
“Tahu,” jawab Nisa’.
“Tahu? Pintaaar. Sekarang Nisa’ bisa terangkan sama Mama, bola itu apa ya?”
“Yang ditendang-tendang…”
“Terus apa lagi?”
“Mmm…bulat.”

Menanyakan definisi makna akan merangsang si kecil untuk menemukan prinsip-prinsip dasar dari setiap hal. la belajar menemukan kekhasan dari benda-benda yang ada di sekitarnya. Seperti Nisa’, pada awalnya ciri khas bola yang membedakannya dengan benda-benda lain adalah ditendang-tendang dan bulat. Kelak ia akan melihat ciri khas serta prinsip-prisip yang lebih luas, karena yang bulat tidak hanya bola.

Orang tua yang senantiasa merangsang anak untuk menemukan definisi makna dari benda-benda alam, akan besar manfaatnya bagi anak. Anak akan menyadari bahwa lingkungan alam merupakan sumber ide yang berharga.

Merangsang anak berpikir konseptual dengan menanyakan definisi makna, merupakan cara yang pa¬ling sulit. Kesulitan ini terletak pada bagaimana kita mengemas pertanyaan agar mudah dicerna anak.

Definisi Fungsional
Percakapan antara Hani dan Irfan dalam contoh di atas merupakan percakapan tentang definisi fungsional (manfaat) air. Orang tua merangsang anak untuk mampu menemukan manfaat yang bisa didapatkan dari air. Apa saja keuntungannya kalau tanaman diberi air.
Anak yang mengetahui manfaat air akan “menyadari” bahwa air tidaklah sekadar benda mati yang mengalir. Anak menyadari bahwa setiap gejala alam akan sangat berguna bagi kesejahteraan manusia.

Air adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luar biasa manfaatnya, ini jika orang tua sekaligus menanamkannya sebagai sarana untuk menanampak religiusitas kepada anak. Tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang sia-sia.

Orang tua dapat memberikan sentuhan pendidikan dengan menunjukkan manfaat benda-benda yang ada di sekitarnya. Ini tidak hanya bermanfaat untuk memacu kemampuan berpikir anak, juga bermanfaat untuk memberikan sentuhan perasaan dan kasih sayang.
Definisi manfaat memiliki muatan afeksi yang lebih tinggi dibanding definisi makna, sehingga membuka pintu kesadaran melalui definisi manfaat akan efektif. Orang tua dapat memberikan sentuhan kesadaran lingkungan, kesadaran kesetiakawanan sosial, bahkan kesadaran spiritual.

Orang tua dapat menanamkan keimanan dan kesadaran spiritual dengan menunjukkan bahwa alam semesta, termasuk objek-objek yang tampak sepele, merupakan bukti keagungan Tuhan yang sangat tinggi nilainya. Semuanya merupakan ciptaan Tuhan yang sangat berguna bagi manusia.

Misalnya, “Allah sangat sayang kepada kita. Allah memberi kita air, udara, tanaman-ta-naman … banyak sekali. Semuanya sangat berguna. Coba, kalau seandainya tidak ada air, apa yang terjadi kalau kita sedang kehausan?”
“Makanya kita harus mencintai semua ciptaan Al¬lah. Kita harus menjaganya agar tidak rusak. Kita harus cinta kepada Allah. Irfan kan cinta kepada Allah, ya?”

Definisi Operasional
Suatu saat tunjukkanlah kepada anak bagaimana cara memanfaatkan air. Atau tanyakanlah kepada si kecil apa yang bisa kita lakukan kalau kita sedang sakit.
Meminta anak untuk menunjukkan apa yang bisa dilakukan ketika sakit, merupakan contoh dari definisi operasional. Bisa juga disebut definisi penerapan. Kata-kata sifat biasanya lebih mudah ditanyakan definisi penerapannya daripada definisi makna. Anak lebih mudah untuk berpikir tentang apa yang bisa dilakukan ketika sakit daripada arti dari sakit itu sendiri.

Orang tua dapat bertanya kepada anak, apa yang bisa dilakukan anak kalau ia sedang kedinginan, gelisah menunggu teman, atau ketika sedang gembira. Orang tua dapat bertanya definisi panas, misalnya dengan, “Apa yang akan Vida lakukan kalau Visa sedang kepanasan?”
“Minum es…,” jawab Vida.

Anak yang terbiasa memahami definisi penerapan, akan terdorong untuk berpikir kreatif. Ia akan terangsang untuk melakukan hal-hal baru yang orisinal. Kemampuan berpikir besar dengan menghasilkan ide-ide segar, dimulai dari sini. Tetapi ini tidak bisa dipisahkan dari dari definisi manfaat.
Kehangatan dan penerimaan dari orang tua, terutama ibu, merupakan kunci penting dalam memberikan sentuhan pendidikan kepada anak. Termasuk ketika memacu kemampuan berpikir anak.*

Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi Februari 2006

Semangati Jangan Bebani

Tahukah Anda bedanya mengejar anjing dan dikejar anjing? Sama-sama menguras tenaga, tapi beda akibatnya bagi jiwa dan pada akhirnya bagi badan.

Saat kita mengejar anjing, energi baru akan muncul ketika kita melihat anjing itu lewat di hadapan kita. Energi yang semula serasa hilang karena mati-matian lari, serasa memenuhi seluruh rongga badan kita kembali saat binatang yang luput dari kejaran kita itu tampak berkelebat. la menghadirkan semangat selagi tujuan kita masih kuat atau kita merasa cukup memiliki kemampuan untuk mengejarnya.

Tetapi kondisi psikis yang sama tidak kita miliki kalau yang terjadi sebaliknya. Kita dikejar anjing. Barangkali baru lima meter kita berlari, rasanya lunglai seluruh badan kita. Lemas tak berdaya. Kita perlu waktu cukup lama untuk memulihkan kembali energi yang hilang begitu saja. Begitu pula kesiapan emosi kita untuk bertindak, perlu pemanasan untuk bisa kembali cepat tanggap. Kecuali jika anjing itu menyalak lagi mengejar kita, maka kesanggupan berusaha akan muncul lagi, meski tak seberapa. Sekadar menyelamatkan diri dari ancaman.

Anak-anak kita juga demikian. Kalau semangat yang kita tanamkan kepadanya, maka ia akan senantiasa memiliki energi dan kesegaran untuk mengejar anjing yang bernama cita-cita. Tetapi kalau ia kita paksa untuk meraih sesuatu yang kita harapkan mereka miliki, maka kitalah yang menjadi anjing penjaga itu. Anak-anak kita belajar bukan karena haus ilmu, melainkan karena takut kepada kita. Kalau kita tidur, tidur pula semangat anak untuk belajar. Kalau kita pergi, pergi pula kemauannya untuk berbuat baik. Ia menjadi robot dari keinginan kita yang menanti saat untuk berontak atau justru sebaliknya, menjadi orang yang tidak punya gairah sama sekali. Tak ada yang menyenangkan baginya selain makan. Bahkan makan pun boleh jadi tak menyenangkan.

Ini mungkin gambaran yang terlalu ekstrem. Tetapi jangan katakan tidak ada, meski saya berharap itu tidak terjadi pada keluarga kita. Saya berdoa, semoga atas setiap letih lelah kita mengasuh mereka di waktu kecil, kelak Allah ‘Azza wa Jalla akan berikan kepada kita kemurahan H dan kasih-sayang di surga-Nya. Tak ada cita-cita yang lebih mengharukan bagi orangtua terhadap anaknya, kecuali berharap agar mereka kelak menjadi anak-anak shalih yang mendoakan (waladun shalihun yad’ulah).

Karenanya, sudah seharusnya kita memberi perhatian yang lebih banyak kepada apa yang dapat mengantarkan mereka menuju keshalihan. Kita sentuh hatinya, sehingga hiduplah akal pikirannya. Bukan menyibukkan dengan banyaknya pengetahuan yang mereka serap. Sementara terhadap jiwa mereka, kita lupa menghidupkannya.

Pengayaan Mental
Saya teringat dengan Dr Marian C Diamond, peneliti otak milik Albert Einstein. Setelah mempelajari otak milik mendiang Einstein, Diamond mencoba memahami lebih jauh dengan melakukan berbagai percobaan terhadap tikus. Mulanya ia memberi pengayaan lingkungan, kemudiari ia mencoba melakukan eksperimen yang berbeda. Diamond meneliti dua kelompok tikus.

Satu kelompok memperoleh pengayaan emosional, yakni mendapat perhatian yang penuh kasih-sayang. Diamond menemukan bahwa ketika ia memberikan sentuhan kasih itu, mereka menunjukkan tanda-tanda fisik akan perbaikan fungsi sistem limbik mereka.

Karena itu, mengacu pada percobaan ini, pengayaan secara mental dapat memberikan kepada kita kapasitas fisik yang lebih luas bagi kecerdasan intelek dan emosi. Begitu dijelaskan dalam buku Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak terbitan MLC, Bandung.
Ada sejumlah penelitian lain hasil percobaan Diamond. Kali ini penelitiannya terhadap manusia. Bukan tikus. Ringkasnya, pengayaan secara mental akan meningkatkan kapasitas fisik kecerdasan kita dan anak-anak kita. Peningkatan kapasitas mental memungkinkan mereka memiliki kecerdasan cair yang lebih tinggi.

Apa itu kecerdasan cair? Rumusannya begini, “Kecerdasan cair adalah ukuran efisiensi kerja otak, bukan ukuran jumlah fakta yang tersimpan di dalamnya.”

Seorang anak boleh jadi tahu banyak, tetapi ia tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang ada di otaknya. Ia dapat mempelajari, katakanlah kimia karbon, di usia yang sangat belia. Tetapi ia tidak mengambil manfaat darinya. Pengetahuannya tentang kimia karbon menjadi tumpukan pengetahuan yang mati, sehingga menjadi kotoran data (data smog) dalam otaknya.

Nah, keadaan seperti ini mudah terjadi apabila anak-anak kita belajar seperti robot. Mereka belajar karena beban itu harus mereka singkirkan. Tanpa tujuan, tanpa keterlibatan emosi, tanpa bisa menikmati. Saat yang pa¬ling membahagiakan bagi mereka adalah ketika terbebas dari beban dan tuntutan.

Ini berbeda dengan anak-anak yang belajar karena ada semangat yang menyala dalam dirinya. Gairah belajar selalu ada pada dirinya, kecuali apabila orangtua atau guru telah menjebaknya dengan rutinitas yang terus- menerus tanpa memberi kesempatan rehat bagi jiwanya. Di antara bentuk rehatnya jiwa adalah berhibur. Kata’ Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, “Hiburlah hati suatu ketika, karena jika dipaksakan terus-menerus terhadap sesuatu, ia menjadi buta….”

Itu sebabnya saya sangat berharap, kepada sekolah- sekolah yang memberlakukan jam belajar sehari penuh (fullday), agar tidak memberikan pekerjaan rumah yang bertumpuk-tumpuk. Sebab ini tidak membuat anak semakin cerdas. Justru sebaliknya, inisiatif, antusiasme, dan kecerdasan cairnya bisa melemah.

Kita bisa memberi mereka project sebagai bahan pengayaan apabila mereka ingin berlatih meningkatkan kecakapan intelektualnya di rumah. Tetapi bukan pekerjaan rumah. Agar mereka menjadi anak-anak yang penuh inisiatif, kecakapan emosinya berkembang, kecakapan sosialnya tidak terhalang. Kita perlu memberi kesempatan kepada mereka untuk dapat menikmati hari libur tanpa beban akademik.

Kalau hams ada yang kita berikan pada anak-anak kita, maka itu lebih bersifat pengayaan mental dan lingkungan. Kita bisa memberi mereka pengayaan pengalaman dengan memberi pekerjaan rumah yang jmenantang. Misalnya beternak atau menggembala kambing-kegiatan yang sangat efektif untuk merangsang empati dan kepemimpinan.
Selebihnya, semangat merekalah yang perlu kita bangkitkan. Bukan membebani dengan tuntutan-tuntutan yang membuat mereka seperti dikejar anjing. Dalam keadaan tertekan, sejumput makanan di neraca akan jauh lebih berat dibanding sekarung batu yang ditopang.
Begitu pula jiwa anak-anak kita. Tugas yang sederhana akan terasa sangat berat dan melelahkan jiwa-bukan hanya fisik apabila kita memberikannya sebagai tuntutan dan bahkan ancaman. Tetapi tugas yang sangat pelik, rumit, dan berat pun jika kita sertai dengan dukungan dan perhatian yang tulus, akan terasa ringan. Boleh jadi tugas itu bahkan terasa di luar batas kesanggupan. Tetapi, sekali lagi, dalam keadaan penuh semangat dan gairah yang menyala-nyala, insya Allah mereka akan sanggup menuntaskan tanggung jawabnya. Dan inilah yang seharusnya ada pada jiwa anak-anak kita

Bukan Lancar Berhitung
Sungguh, yang harus kita siapkan bukanlah anak-anak yang lancar berhitung. Kita perlu berusaha melahirkan anak-anak yang akan sanggup menegakkan kepala menghadapi tantangan, mengepalkan tangannya mengatasi kesulitan, kuat jiwanya menghadapi tekanan, cemerlang pikirannya merumuskan visi perjuangan, optimis sikapnya menghadapi apa yang tampaknya mustahil diwujudkan, cerdas nalarnya mengurai ilmu-ilmu yang terhampar di hadapannya, dan membasahi matanya di waktu malam dengan munajah kepada Allah Yang Maha Menciptakan. Di siang hari ia seperti singa yang merancang masa depan dan perjuangan dengan gagah. Di malam hari, kepalanya lebih dekat dengan tanah daripada kakinya.

Anak-anak seperti itu, akankah engkau lahirkan wahai Mukminat kalau engkau sendiri tak sanggup menaklukkan ambisimu untuk memperoleh tepuk tangan atas celoteh anak-anakmu? Tahanlah dirimu sejenak. Biarlah engkau usap kepala setiap hari tanpa ada tepuk tangan dan piala, asalkan pada dada mereka engkau tanamkan cita-cita tinggi. Sangat tinggi.

Semangati mereka. Tapi jangan bebani. Bangkitkan pada diri mereka tanggung jawab, rasa cinta kepada saudaranya sesama Muslim, empati, kepedulian dan kepekaan. Bukalah mata mereka bahwa ada saudaranya yang harus mereka tolong. Di Palestina, ya Ukhty…. Di Afghanistan, ya Ukhty…. Mereka sedang menanti lahirnya generasi yang menyala-nyala semangatnya, hidup jiwanya, cerdas akalnya, kuat imannya, tajam pikirannya, dan gigih perjuangannya.

Benarlah kata Rasulullah Sliallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”

Beberapa orang di sekeliling Nabi bertanya, “Bagaimana caranya membantu berbakti?”
“Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, dan tidak membebaninya, tidak pula memakinya.”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati kita. Semoga Allah mampukan saya hadir kembali ke hadapan Anda untuk berbincang tentang bagaimana membang-kitkan semangat anak. Tetap di majalah ini, bulan depan, insya Allah*

Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi April 2006

Membangkitkan Semangat Anak

Heri Hendrayana. Lahir dalam keadaan normal, lengkap kaki dan tangan. Masa kecilnya dihabiskan di antara tumpukan buku-buku bergizi, permainan yang penuh semangat dengan teman-teman sebaya, dan curahan perhatian serta kasih sayang berlimpah dari kedua orangtuanya.

Bapak Ibunya berasal dari kultur berislam yang berbeda. Begitu ia pernah bertutur kepada saya seusai shalat berjamaah di atas pesawat yang mengantar kami ke negeri Nabi Musa ‘Alaihissalaam, Mesir. Lebih penting dari itu, orangtuanya membesarkan Heri dengan wawasan luas, pendidikan terbaik dan kasih sayang yang sangat besar. Keduanya membesarkan dengan semangat religius yang kuat.

Umur sepuluh tahun adalah saat paling bersejarah baginya. Tepatnya 5 Oktober 1973, si kutu buku ini jatuh dari pohon setinggi tiga meter. Tangan kirinya patah. Sikut ke bawah jatuh terkulai seperti pelepah pohon pisang yang tanggal. Karena keadaan yang parah, tak ada pilihan lain untuk menyembuhkan kecuali dengan memotong tangannya. Diamputasi.

Ya, anak kecil itu kehilangan tangannya. Tapi tidak semangatnya.

Ketika sedang dirawat di rumah sakit untuk memulihkan kesehatan setelah satu tangannya harus direlakan hilang, bapaknya membawakan sekantong kelereng. Hadiah terindah yang ia terima saat itu. Bapaknya menemani dan melatih bermain kelereng dengan satu tangan. Bapaknya pula yang menumbuhkan percaya diri dan tidak menyibukkan dengan kekurangan.

Sepele kelihatannya, tetapi keakraban itu menguatkan jiwanya. Keakraban itu pula yang kita lihat pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hanya kepada anak dan cucunya sendiri. Rasulullah juga menampakkan keakraban dan persahabatan dengan setiap anak kecil, sehingga hati mereka dekat bahkan sebelum mereka mengerti hakikat risalah Rasulullah.

Kembali pada Heri Hendrayana. Bapaknya memberinya permainan dan menyediakan waktu untuk
bermain-main. Sebuah permainan sederhana yang membuat percaya dirinya tumbuh. Begitu pulang dari rumah sakit, dengan tangan yang tinggal satu, ia mengajak teman temannya bermain kelereng.
Dan ia mampu menguasai permainan dengan baik.

Inilah awal yang mengesankan. Sebuah pengalamankeberhasilan, sekecil apa pun, dapat membangkitkan kekuatan untuk memiliki percaya diri yang tinggi. Sebuah pengalaman keberhasilan, seremeh apa pun, akan membangkitkan semangat yang lebih besar lagi, lebih besar lagi, dan lebih besar lagi untuk mencoba tugas yang lebih pelik dan menghadapi tantangan yang lebih berat. Dan inilah yang dialami oleh Heri Hendrayana; tangannya satu, semangatnya seribu.

Kelak kita mengenalnya dengan nama Gola Gong, pemilik “Rumah Dunia”, taman bacaan sekaligus sanggar yang mengasah kreativitas anak-anak muda Banten. Awalnya ia dikenal dengan Balada Si Roy, sekarang menekuni penulisan karya-karya islami.

Tentu saja bermain kelereng tak cukup untuk menghibur dan menguatkan jiwa. Ada yang lebih berkesan baginya. Sebuah nasihat dari orangtua yang ia pegang sampai hari ini. Nasihat yang tampaknya sederhana, tetapi begitu membekas.

Gola Gong menuturkan, “Aku hanya berpegangan pada omongan bapak dan emak bahwa pada setiap peristiwa itu selalu ada hikmahnya. Jika seorang hamba Allah mendapatkan kesusahan, itu artinya Allah sedang menguji. Maka, berbahagialah orang yang sedang diuji Allah. Itu pertanda kalau Allah menyayangi kita. Ya, jika Allah menciptakan beban, pasti Allah menciptakan pundaknya.”

Kita mungkin pernah memberi nasihat serupa kepada anak-anak. Tetapi di antara kata-kata kita, ada yang membekas sangat di dada anak-anak yang masih belia itu hingga mereka dewasa. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, tetapi berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.

Apa yang membedakan? Wallahu a’lam bishawab. Salah satu yang berpengaruh adalah kekuatan yang menggerakkannya. Jika engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekadar menghibur perih hatinya, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Jika engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allah akan menjadi qaulan tsaqiila. Perkataan yang berbobot. Sebab bobot kata-kata kita kerap bukan dari manisnya tutur kata, tetapi karena kuatnya penggerak dari dalam dada: iman kita, niat kita.

Sungguh, andaikan setiap guru memberi nasehat kepada muridnya bukan karena kesal melihat tingkahnya, melainkan karena amat berat dirasakan olehnya langkah yang akan ditempuh anak-anak itu di masa yang akan datang, insya Allah setiap kata akan membang kitkan jiwa anak-anak didiknya. Begitu kuat, begitu bertenaga. Terlebih kalau kegelisahan itu bertemu dengan kegelisahan orangtua. Bukan bertabrakan. Karena itu, perhatikanlah siapa yang akan menyemai jiwa anak-anakmu. Lihatlah dengan sungguh-sungguh! Semoga setiap anak kita kelak mewarisi semangat para nabi dan salafush-shalih.

Hari ini, betapa banyak anak yang rapuh jiwanya, meski berlimpah makanannya. Mereka tumbuh dengan gizi yang lebih dari cukup, tetapi kurang mendapatkan penguatan dari ibu bapaknya. Mereka jarang memperoleh pengalaman sukses, meski otak mereka cerdas luar biasa. Sebab orangtua mereka sangat pelit memberi penghargaan dan sangat jarang memberi perhatian. Mereka memiliki kaki tangan yang lengkap, tetapi tidak mendapatkan kepercayaan diri yang kuat bahwa mereka terlahir di dunia ini karena ada amanah yang sanggup mereka pikul. Mereka melihat beban, tetapi tidak yakin Allah sudah memberi pundak baginya untuk menanggung. Anak-anak yang lemah jiwanya itu, kemanakah mereka akan berjalan kelak?

Beri Mereka Cerita yang Menginspirasi

Ada lagi selain pengalaman sukses. Anak-anak yang kurang memperoleh pengalaman sukses disebabkan guru yang kurang tanggap dan orangtua yang kurang perhatian, masih mungkin kita bangkitkan semangatnya dengan membawakan kepada mereka cerita-cerita yang menginspirasi. Ingat, hasil penelitian David McClelland yang didanai oleh CIA!

Saya sudah pernah bercerita kepada Anda betapa karakter berbagai bangsa banyak dipengaruhi oleh cerita yang mereka dengar saat masih kecil. Anak-anak yang rusak percaya dirinya, sulit kita bangkitkan semangatnya kalau mereka tidak melihat dan merasakan betapa diri merekan berharga. Sulit bagi mereka untuk bangkit dan memiliki semangat yang menyala-nyala kalau mereka tidak yakin bisa melakukan sesuatu yang berarti. Berat bagi mereka untuk mengobarkan semangat dalam dirinya kalau tak melihat contoh yang dapat menjadi cermin.
Sebuah cerita -apalagi kalau nyata-akan mampu berbicara lebih banyak dibanding nasehat bertubi-tubi di saat jiwa mereka belum tergerakkan. Sebuah cerita yang menginspirasi akan membuka mata mereka bahwa ada yang harus mereka kerjakan; bahwa pertolongan Allah masih akan hadir.

Teringatlah saya dengan pengalaman masa kecil. Di antara anak-anak sebaya, saya memiliki sejumlah
“kekurangan” yang bisa menjadi bahan ejekan. Bibir memble salah satunya. Beberapa teman merasa sangat asyik dengan bahan ejekan yang tak terbantah ini. Tetapi ibu saya menanggapinya dengan cara luar biasa. Bukan dengan menyuruh saya agar bersabar dengan bibir yang memble, tetapi mengajak saya untuk melihat sebuah kekuatan besar yang ada di baliknya: bahwa saya akan pandai bicara. Ibu tidak menampakkan kesedihannya, lalu bersimpati dengan apa yang saya alami tatkala diejek.

Tetapi sebaliknya, ibu bahkan menunjukkan kebahagiaan dan kegembiraannya, bahwa ada yang harus disyukuri dari bibir memble itu: saya akan menjadi pembicara! Dimana-mana. Hari ini, tentu saja menjadi pembicara bukan cita-cita saya. Sebab ada tanggung-jawab besar yang harus saya hitung. Tetapi untuk diri saya saat kecil, sikap ibu luar biasa besar artinya bagi saya.

Selebihnya nah, ini yang mau saya ceritakan ibu aktif membawakan buku dan sekaligus sering menuturkan cerita tentang orang-orang besar yang memiliki kekurangan fisik. Mulai dari Thomas Alva Edison, sampai Bilal bin Rabah; bekas budak hitam yang terompahnya sudah terdengar di surga.

Semangati dengan Cinta

Apa yang membedakan tokoh-tokoh besar itu dengan kita? Semangatnya. Mereka memiliki keyakinan yang sangat kuat, bahkan di saat orang lain tak sanggup membayangkan beratnya beban. Orang-orang besar itu mungkin bukan yang paling cerdas di antara manusia sezamannya. Tetapi dialah yang mampu melihat masalah sebagai tantangan (bukan beban) dan memandang masa depan sebagai peluang. Bukan ancaman.

Orang-orang besar itu bukan tidak bisa mengenali ancaman. Tetapi hati mereka lah yang begitu bercahaya. Mereka inilah yang sanggup membangkitkan jiwa-jiwa lemah untuk menemukan kembali kekuatan dan makna hidupnya. Mereka inilah yang melihat celah, di saat orang lain merasa tak ada peluang sama sekali.

Tetapi orang besar tidak dilahirkan. Orang-orang besar itu ditempa, diukir dan dipersiapkan oleh pendidikan yang baik. Salah satunya adalah tersedianya kesediaan untuk senantiasa menyemangati dengan cinta. Menggerakkan jiwa mereka untuk melakukan kerja besar yang bermakna. Bukan menyibukkan diri dengan kekurangan. Pertanyaannya, orangtua seperti apakah kita ini bagi anak-anak kita?
Penulis : Muhammad fauzil Adhim
Sumber : Majalah suara Hidayatullah, edisi Juni 2006

Next Page »