Tugas utama orangtua adalah mengantarkan anak menjadi manusia yang mengerti tujuan hidupnya, untuk apa ia diciptakan. Kita bekerja keras agar bisa memberi pendidikan yang terbaik; bukan dengan memasukkan mereka ke sekolah-sekolah unggulan yang kita inginkan, tetapi memasukkan landasan hidup yang penting ke dalam jiwa mereka sehingga kemana pun mereka pergi, ridha Allah juga yang mereka cari.
Anak-anak yang sering dililit oleh rasa lapar, akan bisa menjadi manusia besar yang meninggikan kalimat Allah di muka bumi jika jiwanya hidup, memiliki visi yang kuat dan motivasi yang menyala-nyala. Sebaliknya, secerdas apa pun mereka, hanya akan menjadi beban sejarah bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat jika mereka hidup tanpa orientasi yang jelas dan mengakar. Orientasi hidup inilah yang perlu kita tumbuhkan semenjak dini, sehingga ia belajar menimbang dan menilai.
Orientasi hidup yang mengakar semenjak dini inilah yang kita harapkan menjadi daya penggerak (driving force) bagi kehidupannya kelak. Jika orientasinya semenjak awal sudah bagus, insya-Allah masa remaja tidak perlu mereka lalui dengan krisis identitas dan keguncangan jiwa. Sebab mereka telah menemukannya sebelum identitas diri itu terasa sangat penting bagi mereka di masa remaja. Masa remaja tanpa krisis identitas inilah yang kita kenal sebagai identity foreclosure.
Ini berarti, tidak benar tahayul yang mengatakan remaja secara mutlak merupakan masa pencarian identitas diri. Teori ini hanya berlaku apabila kita tidak mempersiapkan arah dan tujuan hidup anak-anak kita sehingga mereka menyadarinya semenjak kecil. Mereka terkejut ketika memasuki masa remaja karena tidak punya bekal mental untuk menghadapi dan memaknai. Mereka hanya siap dengan hafalan di kepala dan penguasaan materi pelajaran sekolah yang menakjubkan. Mereka banyak tahu, tapi miskin ilmu, miskin tujuan hidup. Ironis-nya sekarang, guru tidak memberi ilmu dan orangtua lebih suka menjadi tentor untuk menggenjot prestasi akademik anak di sekolah daripada menjadi mentor kehidupan yang membekali anak-anak dengan kasih-sayang. Orangtua juga sering lupa menanamkan kesadaran pada anak-anak bahwa setiap langkah mereka dapat mengubah dunia -bukan hanya dirinya sendiri- jika langkah itu berpijak di atas iman yang kuat, jiwa yang kokoh, tujuan yang besar dan ilmu yang matang. Bukankah anak-anak itu mempunyai tugas sebagai khalifatullahfil ardh, kelak ketika mereka telah taklif?
Sungguh, tugas orangtua dan guru bukanlah mempersiapkan anak-anak memiliki prestasi akademik yang menakjubkan. Tugas mereka adalah membimbing anak-anak agar mencintai ilmu, sehingga dengan kecintaan yang besar itu mereka akan bersemangat dalam belajar. Inilah yang insya-Allah akan membuat mereka cerdas dan memiliki prestasi akademik tinggi. Mereka cerdas bukan karena dicecar dengan latihan soal terus menerus, tetapi ka-rena tingginya keterlibatan emosi saat belajar. Sesungguhnya emosi yang positif saat belajar akan membuat myelinasi -proses pelekatan informasi ke dalam otak- akan lebih baik.
Jika anak-anak hanya kita dorong untuk memperoleh nilai yang tinggi di setiap mata pelajaran, mereka mungkin akan menjadi bintang di kelasnya. Tetapi bukan bintang dalam kehidupannya.
Kecintaan terhadap ilmu mendorong mereka berprestasi, tetapi prestasi akademik bukan menjadi tujuannya. Mereka mungkin akan menjadi bintang kelas, tetapi seandainya prestasinya bukan yang terbaik di kelas, mentalnya akan tetap kuat. Tidak runtuh.
Beda sekali antara menanamkan ilmu dengan melatihnya agar terampil mengerjakan soal. Yang pertama menuntut kemampuan melakukan assessment yang baik untuk mengetahui tingkat penguasaan tiap siswa, sedangkan ujian hanya menjadi alat bantunya saja. Wallahu a’lam bish-shawab.
Orientasi Hidup
Kita tidak berpanjang-panjang dengan masalah ini karena bukan wilayah kita sebagai orangtua. Kita perlu berbincang sejenak agar ada kesamaan arah antara kita dengan guru di sekolah.
Apa saja yang perlu kita berikan agar anak-anak memiliki orientasi hidup yang baik? Pertama, sebelum membangun orientasi hidup, yang paling awal kita berikan adalah kasih-sayang. Kita hidupkan perasaannya dengan memberikan waktu kita untuk bercanda bersama mereka. Ini tampaknya sepele, tetapi di tengah kesibukan yang semakin menyita perhatian, waktu bersama anak semakin menuntut perencanaan. Kita sengaja meluangkan waktu bersama anak dan bermain bersamanya. Bukan mengarahkan permainannya. Sebab tugas kita adalah mengarahkan orientasi hidupnya. Kalau ada permainan yang kita larang, itu berkait erat dengan baik buruknya secara mental bagi anak.
Apa yang bisa kita petik dari pribadi Rasulullah saw. dalam mendidik anak? Sebelum mengajarkan tentang kebenaran, Rasulullah saw. lebih dulu melimpahi anak-anak dengan kasih-sayang dan menyediakan waktunya untuk bermain-main. Bukankah kita ingat bagaimana Rasulullah saw. menyempatkan diri bermain kuda-kudaan dengan cucunya? Bukankah kita ingat juga bagaimana Aqra’ bin Habis At-Tamimi menyatakan keheranannya ketika melihat Rasulullah saw. mencium cucu-cucunya? Ketika itu Aqra’ bin Habis At-Tamimi bercerita bahwa ia punya sepuluh orang anak, tapi tak satu pun yang pernah ia cium. Dan Rasulullah saw. murka karenanya.
Bukankah kita ingat juga bagaimana Rasulullah saw. menggendong cucunya, Umamah putri Zainab, tatkala sedang shalat? Ini menunjukkan betapa pentingnya bermain dan perhatian yang hangat bagi akidah anak kelak.
Kedua, berikan rangsangan kepada anak untuk berpikir. Berikan kepada mereka tantangan dengan melihat kehidupan ini secara nyata sambil pada saat yang sama-sama membangun cita-cita mereka untuk berbuat. Kita rangsang mereka untuk berpikir tentang bagaimana memberi manfaat kepada alam semesta ini, menyele-saikan persoalan yang ada di dalam, dan kembali kepada Allah dalam keadaan ridha dan diridhai. Bukan menanamkan angan-angan tentang masa depan betapa mereka akan dimuliakan jika memiliki ilmu dan keterampilan.
Artinya, yang harus kita bangun adalah cita-cita yang visioner. Bukan cita-cita pasif; belajar yang pintar, kalau sudah besar jadi dokter, kendaraannya helikopter. Bukan itu. Cita-cita pasif cenderung membuat kepekaan hatinya tumpul dan daya penggerak (driving force) hidupnya akan lemah.
Sesungguhnya, daya penggerak yang bersifat moralistik-idealistik memiliki kekuatan yang lebih besar dalam membakar semangat anak dibanding sekedar mimpi tentang uang. Sayangnya, TV mengajarkan yang sebaliknya kepada kita. Bahkan acara dakwah pun isinya membangkitkan kerinduan kita pada uang. Kita bersedekah bukan untuk mendapatkan ridha Allah, tetapi untuk mendapatkan yang lebih. Dalam bahasa psikologi, acara-acara dakwah itu membangun orientasi religius ekstrinsik; orientasi yang rapuh dan mudah runtuh.
Ketiga, agar anak-anak itu memiliki cita-cita yang visioner, kita perlu merangsang mereka untuk menjadi manusia-manusia idealis. Mereka bercita-cita besar karena memiliki idealisme yang kuat di atas landasan iman yang kokoh dan ‘aqidah yang lurus. Cita-cita besar inilah yang turut menjaga orientasi hidupnya.
Agar idealisme itu tidak membuatnya menarik diri dari kehidupan, kita perlu mengajak mereka mendiskusikan realitas. Tak sekedar fakta yang bertumpuk di masyarakat. Apa bedanya? Realitas adalah serangkaian fakta yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip tentang mengapa fakta itu ada. Kita ajak anak-anak itu melihat bahwa hukum Allah atas kehidupan ini tidak berubah sedikit pun.
Ini berarti, kita perlu merangsang anak-anak agar menjadi manusia idealis yang cerdas! Wallahu a’lam bish shawab.
‘Alaa kulli haal, pada diri remaja ada tiga kecenderungan yang kuat; menyukai lawan jenis dengan segala aspeknya; dorongan untuk menemukan kebenaran yang sebenarnya yang membuat mereka cenderung idealis atau sebaliknya, meragukan kebenaran; serta kebutuhan untuk meneguhkan eksistensi sehingga keberadaannya diakui.
Lalu, apa yang sudah kita persiapkan?
Penulis : Mohammad Fauzil Adhim
Sumber : Majalah Suara Hidayatullah, Ed. Januari 2007






Assalamu'alaikum .. Saya Dian Candra. Kami adalah Book Advisor PT Mizan Dian Semesta, salah satu unit usaha dari Mizan Publika yang membantu keluarga muslim dalam menciptakan kegiatan belajar di rumah.


Komentar terakhir