Sejak awal Tia tidak ingin repot dengan urusan anak yang riuh rendah. Tetapi keinginan untuk punya anak ada. Betapa pun, rasanya belum lengkap pernikahan tanpa hadirnya keturunan. Itu sebabnya, dari awal menikah Tia merasa perlu membicarakan dengan suaminya.
“Saya mau punya anak satu,” kata Tia, “Biar bisa mendidik dengan lebih baik, bisa memberi perhatian yang optimal, dan mengembangkan seluruh potensi anak.” Tia berharap-harap cemas menunggu reaksi suami¬nya. Tia sengaja mendahului mengutarakan gagasannya karena ia merasa masalah ini sangat prinsip baginya. Entah kenapa, suaminya masih diam saja.
“Kalau Mas sendiri ingin punya anak berapa?” tanya Tia.
“Saya sih….,” kata suaminya,”… pingin punya anak sembilan.”
Jawaban yang tak terduga. Jawaban yang sama sekali tak diharapkan Tia. Begitu mengejutkannya, sehingga Tia tak bisa dengan cepat menyikapinya dengan baik. Salah satunya karena ia tahu jawaban suaminya sangat serius.
Ah…, tetapi kebahagiaan pengantin baru dengan cepat mengalahkan semua kerisauannya. Dan tak lama, ia pun mengandung anak pertama; anak yang kemudian ia perlakukan sebagai anak tunggal. Selalu mencurahkan perhatian besar dan kadang lupa membedakan antara kasih-sayang dengan memanjakan.
Tanpa sadar, Tia sering mengajak bercanda anaknya yang semata wayang dengan kata-kata yang menjadikan anak merasa sebagai satu-satunya. Tak pernah ia mengajak anak untuk membayangkan indahnya punya saudara. Ketika anak mulai beranjak besar, Tia mulai merasa kerepotan. Satu anak saja sudah sangat repot, apalagi kalau dua. Tia coba yakinkan suaminya ketika lelaki yang menikahinya empat tahun lalu itu mulai mengajaknya bicara tentangkemungkinan punya anak lagi. Sekali lagi, Tia ingin menunjukkan kepada suaminya, repot sekali punya anak dua kalau yang pertama saja belum mandiri.
“Nantilah, Mas kalau anak kita sudah usia empat tahun. Kalau adek sudah masuk TK, kita bisa merencanakan untuk punyaanak lagi,” kata Tia. Suaminya setuju. Dan Tia kembali menghadapi kesibukan melayani anaknya yang semata wayang, Dita.
Sudah tiga tahun usia Dita sekarang. Aduh, anak yang manis itu kini sangat menyusahkan. Mandi susah, makan susah, sikat gigi apalagi. Kalau sudah di depan TV, malas sekali beranjak meski sekedar untuk mengambil sendok. Lagi-lagi Tia dan suaminya yang harus sibuk dengan semua itu, tanpa mengingat bahwa anak harus mulai belajar mandiri. Kadang kita sulit membedakan antara menyayangi dan memanjakan, sehingga karena takut memanjakan kita kurang memberikan kasih-sayang pada anak-anak kita, Sebalik-nya, karena ingin menyayangi, kita keliru memanjakan.
Menjelang anaknya berusia empat tahun, Tia mulai hamil. Saat anaknya memasuki usia 4,5 tahun lebih sedikit, Tia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat, Tangisnya keras memecah kesunyian. Hari-hari pertama, Dita sangat senang punya adik, Tetapi setelah satu minggu, kecemburuannya mulai tampak. Setelah adiknya lahir, perhatian ibunya menjadi jauh berkurang. Dita mulai menyerang adiknya. Tak cukup dengan itu, belakangan Dita menunjukka perlawanan. Kerapkali ia melarang ibunya meninabobol kan si adik. “Adik sama bapak aja,” teriak Dita.
Tak pelak, suami Dita yang harus menggendong dan menangani si kecil kalau Dita sedang menampakkan perlawanannya. Tia sendiri kerap menyalahkan keingnan suaminya untuk punya anak lagi, sehingga menjadi pembenar Dita untuk menunjukkan perlawanan. Keinginan Dita untuk menguasai ibunya hanya untuk dia saja, seakan gayung bersambut dengan sikap ibunya.
Tetapi…
Tia akhirnya merasa sangat kerepotan. Bagaimara pun juga, ia harus memberi perhatian kepada anak lelakinya. Kalau Dita terus mengganggu, tak bisa Tia mengurus si kecil dengan baik. Masalahnya, Dita sudah terlanjur “menguasai ibunya” kalau sedang minta diperhatikan. Semakin dituruti keinginannya, rasa cemburu Dita terhadap adiknya justru tampak semakin besar. Bukan semakin reda. Sekarang, baru menyusui si kecil sebentar saja, Dita sudah menunjukkan marahnya. Sudah tak kurang-kurang Tia menyampaikan kepada Dita bahwa sebagai kakak, Dita harus sayang sama adik Tetapi Dita tampak semakin keras saja. Rasa cemburunva semakin menyala-nyala.
Apa yang salah sebenarnya dengan Dita? Tak ada yang salah. Dita berseteru dengan adiknya karena cemburu. Bahasa psikologinya sibling rivalry (persaingan antar saudara). Rasa cemburunya besar, dan bahkan cenderung menolak adik, karena ia memang diperlaku-kan sebagai anak tunggal oleh ibunya. Pada saat yang sama, Tia sebagai ibunya tidak mempersiapkan anak untuk memiliki adik. la tidak menumbuhkan keinginan, harapan, dan bayangan tentang apa yang bisa Dita lakukan untuk adiknya kelak. la juga tidak menata mental anak menghadapi perubahan menjelang adiknya lahir. Seperti Tia, banyak di antara kita yang tidak merencanakan kelahiran dengan baik. Anak-anak kita punya adik karena adiknya memang sudah lahir. la lahir begitu saja. Dan tiba-tiba sesudah kelahiran, segala sesuatu berubah. Kita sendiri juga berubah. Berubah karena hams ada yang kita hadapi: anak kita yang baru lahir dengan segala tangis dan pipisnya. Kita berubah bukan karena secara sengaja merencanakan untuk berubah, mengiringi kelahiran anak kita.
Ujung-ujungnya, kita terjebak oleh ketakutan dan mendapat pembenaran dari repotnya menangani anak. Punya anak satu saja repot, apalagi dua. Punya anak dua lebih repot, kok mau tiga. Padahal hitung-hitungannya tidak demikian. Punya anak satu memang repot, karena sumber perhatian anak hanya dari orangtua. Punya anak dua? Sama saja. Sama-sama repot, karena mereka cenderung bersaing berebut perhatian. Tapi tidak kalau anak sudah tiga atau empat. Mereka akan belajar bekerja sama, bermain bersama-sama dan sesekali bertengkar bersama-sama. Tetapi bukankah melalui peristiwa semacam ini mereka belajar keadilan? Sayangnya sumbu emosi kita begitu pendek, sehingga mudah naik pitam saat mereka bertengkar. Apalagi kalau kita sedang capek. Saya tidak berpanjang-panjang dengan ini, sebab masalah paling pokok umumnya adalah sikap kita yang tidak mau direpoti oleh anak. Berapa pun anak yang kita asuh kalau kita memang tidak mau repot, kehadiran mereka akan sangat merepotkan kita, sekalipun mereka sudah menjadi anak-anak manis yang sangat menyenangkan. Seperti halnya keengganan kita menemani anak dengan berlindung di balik ungkapan terindah yang pernah saya dengar,
“Yang paling penting kan kualitas, bukan banyaknya waktu yang kita habiskan bersama anak.” Kita ungkapkan itu dengan mantap, tetapi lupa menakar waktu berkualitas itu yang seperti apa. Kita juga lupa bertanya, waktu berkualitas itu menurut kita atau menurut anak. Jangan-jangan yang kita anggap .vaktu berkualitas bersama anak, sesungguhnya bagi mereka sama saja dengan waktu-waktu lain. Sama-sama tak berarti. Sama-sama membosankan.
Berawal dari sikap tidak mau direpoti anak, jalan pintas kerap menjadi pilihan yang kita ambil tanpa sadar. Begitu anak menangis, atau bikin kita merasa repot. Termasuk repot karena pertanyaan-pertanyaan cerdas anak, cepat-cepat kita berikan televisi pada mereka. Kita berikan mereka mimpi-mimpi tentang asyiknya melihat benda ajaib bernama televisi, “E, coba. Kita lihat, yuk….Bagus lho acara TV-nya.” Anak pun segera bergegas lari mematut diri di depan TV. Lama sekali. Begitu Iamanya
sampai-sampai kita lupa bahwa amat banyak hal yang telah mempengaruhi otak dan diri anak, hingga ketika berapa waktu kemudian tampak perilaku yang tidak menenteramkan hati, kita marah pada acara TV. Anehnya, kita tetap rawat dan sayang-sayangi kotak kaca ajaib itu.
Ah…, betapa aneh-nya kita ini. Merusak tapi dicintai. Atau saya yang semakin bodoh? Tidak mampu memahami bahwa hidup di dunia modern memang harus memiliki semua yang disebut modern?
Baiklah, kita kembali berbincang tentang TV. Sekurangnya ada dua hal yang membuat kita perlu mempertimbangkan kembali kehadiran TV di rumah kita, sekurangnya mengurangi kehadirannya dalam kehidupan anak kita. Pertama, televisi menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, dan merusak terutama sekali kecerdasan spasial di otak sebelah kanan. Kedua, semakin banyak nonton TV, anak semakin kurang bergerak. Padahal, seperti yang ditulis Carla Hannaford, Ph.D. dalam Smart Moves: Why Learning is not All in Your Head, gerakan membangkitkan dan mengaktifkan kapasitas mental kita. Gerakan menyatu-kan dan menarik informasi-informasi baru ke dalam jaringan neuron kita. Gerakan sangat vital bagi semua tindakan untuk mewujudkan dan mengungkapkan pembelajaran kita, pemahaman kita dan diri kita.
Alhasil, jangan terkejut jika anak kita mengalami gangguan mental maupun gangguan belajar, sementara kita tahu dengan pasti bahwa ia sejak kecil selalu ditimang-timang oleh TV. Jangan bertanya, gen siapa yang menyebabkan anak bermasalah sehingga menampakkan perilaku seperti anak autis jika kitalah sebenarnya sebagai orangtua yang memperlakukan mereka secara autis. Kita jarang mau bicara karena setiap kali mereka rewel, cepat-cepat kita nyalakan TV.
Tetapi bukan ini perbincangan kita saat ini. Saya sebenarnya cuma mau bertutur bahwa kecemburuan anak terhadap adiknya, Iebih-lebih yang sampai pada tingkat menolak, sebenarnya kerapkali bersumber pada sikap awa1 kita. Saya cuma mau berbincang bahwa tingkah laku mereka yang sangat merepotkan, tidak jarang justru berawal dari sikap kita yang tidak mau direpoti anak. Meski pada sebagian besar kasus, perilaku mereka yang bikin kita geleng-geleng kepala dan membuat ibunya mengelus-elus dada sebenarnya karena kecerdasan mereka yang luar biasa. Pada usia di bawah sepuluh tahun, kadang bahkan berlanjut hingga usia sesudahnya, manifestasi kecerdasan itu adalah gerakannya yang sangat aktif. Sesudahnya adalah kemampuan berpikir yang sangat kritis, cerdas dan kreatif.
Emmm… jangan salah paham. Saya bukan orangtua yang luar biasa. Saya masih sering merasa betapa merepotkannya mereka. Saya juga masih sering marah. Tetapi tak ada lagikah bagi kita ruang untuk saling bertegur-sapa, saling mengingatkan, saling menasehati dan termasuk saling memberitahu agar tidak melemahkan diri sendiri dengan sumber pengaruh yang kita tidak mampu mengendalikan isinya sepuluh menit yang akan datang, yakni televisi?*
Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi Desember 2005






