Menjelang penghujung abad ke-20, sekelompok ilmuwan di Jepang berhasil meniru struktur kimia feromon (zat perangsang) seks yang dilepaskan oleh kumbang lamellicorn jenis Exomala orientalis dan Anomala octienscostata. Feromon seks berfungsi untuk menarik lawan jenis saat musim kawin.
Feromon tiruan ini ternyata berhasil dengan gemilang. Kreativitas ilmuwan di Jepang terbukti mengagumkan. Satu gram kapsul/eromon betina mampu menarik lebih dari 10.000 kumbang jantan dalam waktu 7,5 jam. Dapat dibayangkan, 10.000 kumbang!
Yang tidak dapat dibayangkan, adalah nasib kumbang yang tidak sedikit jumlahnya. Setelah semua kumbang terkumpul, tidak satu persatu, semua kumbang itu dibantai sekaligus. Mati.
Peristiwa unik tersebut menunjukkan kepada kita betapa kreatifnya ilmuwan-ilmuwan di Jepang. Tapi…
Dalam sebuah pengajian, seorang budayawan menceritakan pengalamannya ketika berada di Jerman.Di negara yang banyak melahirkan orang-orang kreatif ini, para lelaki yang telah menginjak usia tua mengalami rasa kesepian yang amat sangat. Mereka menghabiskan sisa-sisa waktunya setelah penat bekerja seharian dengan mabuk di trem-trem bawah tanah. Rumah adalah tempat yang paling tidak menarik karena yang dijumpai hanyalah kesepian. Rumah kosong. Sedang anak-anak mereka, semua sudah memiliki kesibukan sendiri-sendiri yang tidak mau diganggu oleh orangtua. Mereka asyik mengembangkan kreativitasnya.
Jika para lelaki tua menghabiskan waktunya dengan mabuk di bar-bar agar tidak ingat lagi kenangan manis bersama anak-anaknya yang dulu dibesarkannya, para perempuan yang telah berangkat tua asyik menulis surat untuk membunuh rasa jemunya.
Surat ini berfungsi untuk menyambung tali silaturahim. Bukan dengan sahabat-sahabat di masa muda atau sanak kerabat satu nasab, tapi dengan dirinya sendiri. Seorang Nancy tua misalnya, menulis surat yang ditujukan kepada dirinya sendiri dengan mengatas-namakan Elizabeth. “Surat dari Elizabeth” itu kemudian dimasukkan amplop, dilem rapi, diberi perangko, lalu diantarkan ke kantor pos terdekat.
Besoknya, pagi-pagi ia duduk di teras menunggu kalau-kalau ada Pak Pos datang membawa “surat dari Elizabeth”. Ketika Pak Pos benar-benar datang, ia segera menyambut dengan gembira. Ia merasa telah sempurna menjadi manusia, karena ada “Elizabeth sahabatnya” yang setia mengirimi surat. Ia membuka-buka surat itu berulang-ulang, membacanya berkali-kali, lalu mene-lungkupkan ke dadanya atau wajahnya. “Bahagianya”.
Di Jepang lain lagi. Di kota yang americanized, para pengusaha mempunyai lahan bisnis baru. Mereka mendirikan persewaan video game yang khusus untuk kakek-kakek dan nenek-nenek yang telah menginjak usia 70-80 tahun. Bisnis ini menjadi alternatif baru yang banyak mendatangkan yen; bisnis menghibur para orangtua yang sungguh-sungguh tua untuk melepaskan rasa kesepian dan menghapus perasaan kemanusiaan yang sentimentil: merindukan anak dan cucu mereka yang – sebagaimana Anda tahu- terkenal kreatif.
Apa itu Kreatif?
Pengalaman para orangtua di Jerman dan Jepang memberitahukan kepada kita bahwa kreativitas itu penting, tapi…
E. Taul Torrance Talent (1969) membuat daftar karakteristik anak kreatif berbakat. Pada buku yang diterbitkan pertama kali tahun 1962 ini, Torrance mendaftar 84 karakteristik. Beberapa karakteristik berhubungan dengan kemampuan berpikir. Sebagian lainnya, tidak sedikit mengungkapkan karakteristik emosi yang menonjol, misalnya kasih sayang yang sangat kuat, perhatian yang begitu besar pada kebaikan orang lain (altruis)- bukan memperhatikan orang lain untuk kepentingan sendiri (egois)-, dan kesadaran terhadap orang lain pada urutan 3,4 dan 5. Karakteristik emosi yang halus (sensitif) dan bersemangat tinggi (energetik). Semua ini baik, tapi…
Tapi orangtua yang menginginkan anaknya kreatif, banyak mengabaikan ciri-ciri yang bersifat non-kognitif. Orangtua kurang begitu tertarik memperhatikan hal-hal yang kelihatannya tidak berhubungan dengan latihan penalaran bagi anak, karena kreativitas lebih banyak dilihat sebagai kemampuan berpikir alternatif.
Seorang yang kreatif adalah orang yang mampu berpikir menyebar, mampu menemukan hal-hal baru, mampu menghasilkan pemecahan masalah. Demikian anggapan umum tentang anak kreatif.
Cukupkah Kreativitas?
Anggapan di atas tidak salah. Buku-buku yang berbicara tentang kreativitas mengatakan hal yang sama. Tapi…
Tapi terlalu berorientasi kepada pelatihan rasio, akan menghasilkan kekeringan mental. Perhatian mereka, benar, terpusat kepada keasyikan mencoba-coba dan memikirkan hal-hal baru. Mereka tertarik dengan petualangan-petualangan intelektual. Tetapi, orientasi ini membatasi wilayah perhatian mereka kepada orang lain, dan masyarakat, atau yang terdekat… orangtua!
Kondisi ini menyebabkan ia belajar memandang bahwa persoalan yang terpenting dalam hidup ini adalah melahirkan penemuan-penemuan atau mencetuskan gagasan-gagasan yang berbeda dengan gagasan yang pernah ada. Sedang kekeringan perasaan kemanusiaan, akan membuat ia mencari pemuasan dan mencoba menyembunyikannya dengan cara-cara yang tidak terbayangkan oleh generasi sebelumnya. Mereka mendirikan pusat-pusat hiburan dengan menggusur taman-taman bermain bagi anak. Mereka merasa kesepian di antara 5 miliar penduduk bumi. Bayangkan, 5 miliar. Mereka, kadang-kadang, membunuh rasa kesepiannya dengan sebutir timah panas. Bunuh diri.
Jika kita menengok telaah-telaah tentang pendidikan anak yang ditulis oleh ulama-ulama kuno (salaf) dan para sufi, kita akan mendapati hal sebaliknya. Imam Al-Ghazali misalnya, menunjukkan betapa eratnya kaitan antara ketajaman pikiran anak kelak setelah dewasa dengan pemenuhan kasih sayang, kehalusan perasaan dan kuatnya getaran keagamaan. Al-Ghazali banyak menulis masalah-masalah seputar menajamkan pikiran, menghaluskan perasaan dengan menguatkan getaran keagamaan.
Jika kita mencermati pikiran ulama-ulama kuno, kita akan mendapati pentingnya menjaga keseimbangan di antara unsur-unsur kekuatan jiwa manusia. Kepribadian manusia terbentuk dari dinamika unsur-unsurnya yang meliputi nqfs (jiwa), jism (konstruksi fisik-biologis), fitrah, qalb dan ruh.
Yang terakhir ini adalah amr-Rabbany (perkara yang menjadi wewenang Tuhan semata). Meskipun disebutkan ilia qalila (kecuali sedikit, saya tidak berani mengklaim terhadap apa yang dimaksud dengan ruh).Sedangkan di dalam qalb, terdapat empat daya, yaitu: quwwatul aqliyyah (daya akal), quwwatul-ghadhabiyyah (daya marah) quwwatusy-Syahwiyyah (daya syahwat/kemauan) dan quwwatul-wahmiyyah (daya imajinasi). Kesemua daya ini diperlukan manusia. Kekurangan maupun kelimpahan pada salah satu quwwah (daya) akan mengakibatkan penyimpangan berupa gangguan mental pada manusia, mulai dari taraf amradh-al-qalb (penyakit hati) sampai dengan asqam al-nafs (penyakit jiwa). Masing-masing memiliki tingkatan dari ringan sampai berat.
Anak-anak masih lemah quwwatul-’aqliyyahnya. Daya yang lebih dominan pada mereka adalah quwwatul-ghadhabiyyah dan quwwwatus-syahwiyyah. Di luar itu, ada dzauq yang masih bening oleh fitrah manusia yang belum tercemari pada anak yang masih bayi. Menajamkan pikiran anak dapat dilakukan dengan terus-menarus dan menghaluskan dzauq anak. Kreativitas adalah salah satu risiko pendidikan yang akan menunjang tugasnya sebagai manusia di muka bumi. Tapi menumbuhkan kreativitas anak bukanlah tujuan. Jika dijadikan tujuan utama, saya khawatir anak-anak justru semakin tidak kreatif.
Tulisan ini tidak berarti melecehkan kreativitas. Kreativitas itu penting. Tapi kreativitas harus berdiri di atas akhlak yang mulia. Kreativitas tidak berdiri sejajar dengan akhlaqul-karimah. Kreativitas harus lahir sebagai konsekuensi dari pendidikan akhlak dan tauhid.
Kreativitas hanyalah salah satu aspek kemampuan manusia. Tidak ada keharusan untuk mendidik anak menjadi kreatif menurut ukuran Anda (lagi pula, siapa yang mengharuskan?). Sayyidina Ali karramallahu wajhahu mengingatkan orangtua bahwa anak-anak dilahirkan untuk zaman yang berbeda.
Penulis : Mohammad Fauzil Adhim
Sumber : Majalah Suara Hidayatullah, Ed. September 2007


Assalamu'alaikum .. 


Komentar terakhir