Tahukah Anda bedanya mengejar anjing dan dikejar anjing? Sama-sama menguras tenaga, tapi beda akibatnya bagi jiwa dan pada akhirnya bagi badan.
Saat kita mengejar anjing, energi baru akan muncul ketika kita melihat anjing itu lewat di hadapan kita. Energi yang semula serasa hilang karena mati-matian lari, serasa memenuhi seluruh rongga badan kita kembali saat binatang yang luput dari kejaran kita itu tampak berkelebat. la menghadirkan semangat selagi tujuan kita masih kuat atau kita merasa cukup memiliki kemampuan untuk mengejarnya.
Tetapi kondisi psikis yang sama tidak kita miliki kalau yang terjadi sebaliknya. Kita dikejar anjing. Barangkali baru lima meter kita berlari, rasanya lunglai seluruh badan kita. Lemas tak berdaya. Kita perlu waktu cukup lama untuk memulihkan kembali energi yang hilang begitu saja. Begitu pula kesiapan emosi kita untuk bertindak, perlu pemanasan untuk bisa kembali cepat tanggap. Kecuali jika anjing itu menyalak lagi mengejar kita, maka kesanggupan berusaha akan muncul lagi, meski tak seberapa. Sekadar menyelamatkan diri dari ancaman.
Anak-anak kita juga demikian. Kalau semangat yang kita tanamkan kepadanya, maka ia akan senantiasa memiliki energi dan kesegaran untuk mengejar anjing yang bernama cita-cita. Tetapi kalau ia kita paksa untuk meraih sesuatu yang kita harapkan mereka miliki, maka kitalah yang menjadi anjing penjaga itu. Anak-anak kita belajar bukan karena haus ilmu, melainkan karena takut kepada kita. Kalau kita tidur, tidur pula semangat anak untuk belajar. Kalau kita pergi, pergi pula kemauannya untuk berbuat baik. Ia menjadi robot dari keinginan kita yang menanti saat untuk berontak atau justru sebaliknya, menjadi orang yang tidak punya gairah sama sekali. Tak ada yang menyenangkan baginya selain makan. Bahkan makan pun boleh jadi tak menyenangkan.
Ini mungkin gambaran yang terlalu ekstrem. Tetapi jangan katakan tidak ada, meski saya berharap itu tidak terjadi pada keluarga kita. Saya berdoa, semoga atas setiap letih lelah kita mengasuh mereka di waktu kecil, kelak Allah ‘Azza wa Jalla akan berikan kepada kita kemurahan H dan kasih-sayang di surga-Nya. Tak ada cita-cita yang lebih mengharukan bagi orangtua terhadap anaknya, kecuali berharap agar mereka kelak menjadi anak-anak shalih yang mendoakan (waladun shalihun yad’ulah).
Karenanya, sudah seharusnya kita memberi perhatian yang lebih banyak kepada apa yang dapat mengantarkan mereka menuju keshalihan. Kita sentuh hatinya, sehingga hiduplah akal pikirannya. Bukan menyibukkan dengan banyaknya pengetahuan yang mereka serap. Sementara terhadap jiwa mereka, kita lupa menghidupkannya.
Pengayaan Mental
Saya teringat dengan Dr Marian C Diamond, peneliti otak milik Albert Einstein. Setelah mempelajari otak milik mendiang Einstein, Diamond mencoba memahami lebih jauh dengan melakukan berbagai percobaan terhadap tikus. Mulanya ia memberi pengayaan lingkungan, kemudiari ia mencoba melakukan eksperimen yang berbeda. Diamond meneliti dua kelompok tikus.
Satu kelompok memperoleh pengayaan emosional, yakni mendapat perhatian yang penuh kasih-sayang. Diamond menemukan bahwa ketika ia memberikan sentuhan kasih itu, mereka menunjukkan tanda-tanda fisik akan perbaikan fungsi sistem limbik mereka.
Karena itu, mengacu pada percobaan ini, pengayaan secara mental dapat memberikan kepada kita kapasitas fisik yang lebih luas bagi kecerdasan intelek dan emosi. Begitu dijelaskan dalam buku Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak terbitan MLC, Bandung.
Ada sejumlah penelitian lain hasil percobaan Diamond. Kali ini penelitiannya terhadap manusia. Bukan tikus. Ringkasnya, pengayaan secara mental akan meningkatkan kapasitas fisik kecerdasan kita dan anak-anak kita. Peningkatan kapasitas mental memungkinkan mereka memiliki kecerdasan cair yang lebih tinggi.
Apa itu kecerdasan cair? Rumusannya begini, “Kecerdasan cair adalah ukuran efisiensi kerja otak, bukan ukuran jumlah fakta yang tersimpan di dalamnya.”
Seorang anak boleh jadi tahu banyak, tetapi ia tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang ada di otaknya. Ia dapat mempelajari, katakanlah kimia karbon, di usia yang sangat belia. Tetapi ia tidak mengambil manfaat darinya. Pengetahuannya tentang kimia karbon menjadi tumpukan pengetahuan yang mati, sehingga menjadi kotoran data (data smog) dalam otaknya.
Nah, keadaan seperti ini mudah terjadi apabila anak-anak kita belajar seperti robot. Mereka belajar karena beban itu harus mereka singkirkan. Tanpa tujuan, tanpa keterlibatan emosi, tanpa bisa menikmati. Saat yang pa¬ling membahagiakan bagi mereka adalah ketika terbebas dari beban dan tuntutan.
Ini berbeda dengan anak-anak yang belajar karena ada semangat yang menyala dalam dirinya. Gairah belajar selalu ada pada dirinya, kecuali apabila orangtua atau guru telah menjebaknya dengan rutinitas yang terus- menerus tanpa memberi kesempatan rehat bagi jiwanya. Di antara bentuk rehatnya jiwa adalah berhibur. Kata’ Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, “Hiburlah hati suatu ketika, karena jika dipaksakan terus-menerus terhadap sesuatu, ia menjadi buta….”
Itu sebabnya saya sangat berharap, kepada sekolah- sekolah yang memberlakukan jam belajar sehari penuh (fullday), agar tidak memberikan pekerjaan rumah yang bertumpuk-tumpuk. Sebab ini tidak membuat anak semakin cerdas. Justru sebaliknya, inisiatif, antusiasme, dan kecerdasan cairnya bisa melemah.
Kita bisa memberi mereka project sebagai bahan pengayaan apabila mereka ingin berlatih meningkatkan kecakapan intelektualnya di rumah. Tetapi bukan pekerjaan rumah. Agar mereka menjadi anak-anak yang penuh inisiatif, kecakapan emosinya berkembang, kecakapan sosialnya tidak terhalang. Kita perlu memberi kesempatan kepada mereka untuk dapat menikmati hari libur tanpa beban akademik.
Kalau hams ada yang kita berikan pada anak-anak kita, maka itu lebih bersifat pengayaan mental dan lingkungan. Kita bisa memberi mereka pengayaan pengalaman dengan memberi pekerjaan rumah yang jmenantang. Misalnya beternak atau menggembala kambing-kegiatan yang sangat efektif untuk merangsang empati dan kepemimpinan.
Selebihnya, semangat merekalah yang perlu kita bangkitkan. Bukan membebani dengan tuntutan-tuntutan yang membuat mereka seperti dikejar anjing. Dalam keadaan tertekan, sejumput makanan di neraca akan jauh lebih berat dibanding sekarung batu yang ditopang.
Begitu pula jiwa anak-anak kita. Tugas yang sederhana akan terasa sangat berat dan melelahkan jiwa-bukan hanya fisik apabila kita memberikannya sebagai tuntutan dan bahkan ancaman. Tetapi tugas yang sangat pelik, rumit, dan berat pun jika kita sertai dengan dukungan dan perhatian yang tulus, akan terasa ringan. Boleh jadi tugas itu bahkan terasa di luar batas kesanggupan. Tetapi, sekali lagi, dalam keadaan penuh semangat dan gairah yang menyala-nyala, insya Allah mereka akan sanggup menuntaskan tanggung jawabnya. Dan inilah yang seharusnya ada pada jiwa anak-anak kita
Bukan Lancar Berhitung
Sungguh, yang harus kita siapkan bukanlah anak-anak yang lancar berhitung. Kita perlu berusaha melahirkan anak-anak yang akan sanggup menegakkan kepala menghadapi tantangan, mengepalkan tangannya mengatasi kesulitan, kuat jiwanya menghadapi tekanan, cemerlang pikirannya merumuskan visi perjuangan, optimis sikapnya menghadapi apa yang tampaknya mustahil diwujudkan, cerdas nalarnya mengurai ilmu-ilmu yang terhampar di hadapannya, dan membasahi matanya di waktu malam dengan munajah kepada Allah Yang Maha Menciptakan. Di siang hari ia seperti singa yang merancang masa depan dan perjuangan dengan gagah. Di malam hari, kepalanya lebih dekat dengan tanah daripada kakinya.
Anak-anak seperti itu, akankah engkau lahirkan wahai Mukminat kalau engkau sendiri tak sanggup menaklukkan ambisimu untuk memperoleh tepuk tangan atas celoteh anak-anakmu? Tahanlah dirimu sejenak. Biarlah engkau usap kepala setiap hari tanpa ada tepuk tangan dan piala, asalkan pada dada mereka engkau tanamkan cita-cita tinggi. Sangat tinggi.
Semangati mereka. Tapi jangan bebani. Bangkitkan pada diri mereka tanggung jawab, rasa cinta kepada saudaranya sesama Muslim, empati, kepedulian dan kepekaan. Bukalah mata mereka bahwa ada saudaranya yang harus mereka tolong. Di Palestina, ya Ukhty…. Di Afghanistan, ya Ukhty…. Mereka sedang menanti lahirnya generasi yang menyala-nyala semangatnya, hidup jiwanya, cerdas akalnya, kuat imannya, tajam pikirannya, dan gigih perjuangannya.
Benarlah kata Rasulullah Sliallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”
Beberapa orang di sekeliling Nabi bertanya, “Bagaimana caranya membantu berbakti?”
“Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, dan tidak membebaninya, tidak pula memakinya.”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati kita. Semoga Allah mampukan saya hadir kembali ke hadapan Anda untuk berbincang tentang bagaimana membang-kitkan semangat anak. Tetap di majalah ini, bulan depan, insya Allah*
Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi April 2006








