Dalam melaksanakan perannya ini, Muhammad Saw. mengalami banyak tantangan, tentangan, dan permusuhan, yang pertama-tama dihadapinya secara diplomatis. Namun, ketika upaya-upaya diplomatis dan damai ini gagal serta musuh-musuh tidak juga menghentikan kezalimannya, Muhammad Saw. terpaksa melawan mereka dengan kekuatan bersenjata (ini diuraikan pada Jilid 8, Muhammad sebagai Pemimpin Militer).
Lalu, demi menjaga stabilitas dan harmoni sosial yang beliau bangun, Sang Pemimpin umat ini perlu menetapkan batas-batas, aturan, dan hukum demi memberantas kezaliman dan mewujudkan keadilan sosial di tengah-tengah masyarakat dan umat (hal ini dibahas pada Jilid 9, Muhammad sebagai Hakim).
Pada akhirnya, semua fungsi dan peranan manusia, baik itu sebagai seorang nabi, pemuka agama, pemimpin masyarakat, pemimpin militer, hakim, pendidik, pebisnis, suami, istri, ayah, ibu, dan orang per orang sebagai pribadi, haruslah bermuara pada perbaikan harkat dan martabat kemanusiaan. Sebab, kualitas iman dan nilai seorang manusia diukur dari seberapa besar kontribusi dan manfaat yang dia berikan kepada dirinya, sesamanya, lingkungannya, dan bahkan kepada seluruh alam, sesuai sabda Nabi, “Manusia terbaik adalah yang paling memberi manfaat bagi manusia lain” (HR Tabrani) dan _rman Allah Swt., Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (QS Al-Anbiyâ’ [21]:
107). (Kontribusi Muhammad Saw. dalam bidang kemanusiaan ini diuraikan pada Jilid 10, Muhammad sebagai Pejuang Kemanusiaan.)
(Sumber: Ensiklopedi Muhammad, terbitan Pelangi Mizan)
Komentar terakhir