+62 878 8711 8706 (Ocha) adm.bukuanakmuslim@gmail.com

15078774_10207276355658410_4455108329781318221_n

Pentingnya Mempelajari Sirah Nabawiyah

Ust. Hepi Andi Bastoni, MA

Darusslam.id –

Mempelajari sejarah itu amat penting, karena alquran mengungkapkan tentang sejarah dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memiliki kesadaran bersejarah agar bisa meneladani yang baik dari generasi terdahulu sehingga Rasulullah juga harus mempelajarinya, misalnya saja Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia……” (Al Mumtahanah: 4)

Dalam konteks diri kita sebagai umat nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka setiap kita tentu saja harus mengenal ini bukan hanya sekedar mempelajarinya secara kronologis dari sebelum lahir hingga wafatnya, tetapi juga harus mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi, inilah hakikatnya menahami sejarah nabi (sirah nabawiyah).

Diantara manfaat yang kita peroleh dari memahami sejarah nabi adalah mengetahui contoh teladan terbaik dalam menjalani kehidupan ini

Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merupakan teladan yang terbaik bagi seorang muslim sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri teladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al Ahzab: 21)

Dengan memahami pribadi Rasulullah dari sirah nabawiyah, akan kita rasakan betapa ada kesenjangan yang sangat jauh antara pribadi kita dengan beliau, dan karena itu kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendekati kepribadianya yang agung. Keteladanan ini bisa kita dapatkan dalam aspek kehidupan, baik dalam kaitan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bangsa, bahkan kita dapati keteladanan dalam dakwah dan perjuangan menegakkan kebenaran ajaran islam itu sendiri.

Dan inilah yang membedakan Rasulullah dengan para nabi sebelumnya. Ketika membaca sirah para nabi, pasti kita mendapatkan keteladanan dari mereka, namun keteladanan yang sangat terbatas.

Mungkinkah kita belajar bagaimana cara berbisnis kepada Nabi Nuh Alaihissalam dalam rentang waktu 950 tahun lamanya??

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al Ankabut: 14)

Ditengah panjangnya usia nabi Nuh tersebut, apa yang bisa kita teladani dari beliau? Sangat sedikit. Kita ingin belajar berbisnis kepada nabi Nuh, tidak ada riwayatnya. Atau ingin belajar bagaimana mengatur pasukan perang kepada Nabi Ibrahim, tidak ada riwayat yang menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim memimpin pasukan perang dan memenangkan pertempuran. Atau ingin belajar bagaimana mengatur sebuah keluarga dari Nabi Isa dan Musa Alaihimassalam, sangat repot mencari referensinya. Apalagi dari Nabi Isa Alaihissalam, bahkan apakah Nabi Isa menikah atau tidak, masih terjadi perbedaan pendapat diantara ulama’. Beliau menikah atau tidak, itu saja masih terjadi perbedaan pendapat, bagaimana kita meneladani beliau dalam hal mengatur keluarga yang baik.

Namun uniknya, disitulah kita menemukan teladan dalam diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dalam diri Rasulullah, kita temukan teladan dalam berbisnis. Di dalam buku Dr. Syafi’i Antonio dengan judul “Muhammad SAW Super Leader Super Manager”. Buku tersebut menguraikan bahwa masa berbisnis Muhammad yang mulai dengan intership (magang), business manager, investment manager, business owner dan berakhir sebagai investor relatif lebih lama (25 tahun) dibandingkan dengan masa kenabiannya (23 tahun). Nabi Muhammad bukan hanya figur yang mendakwahkan pentingnya etika dalam berbisnis tapi juga terjun langsung dalam aktivitas bisnis.

Sejak kecil, tepatnya saat berumur 12 tahun, Nabi Muhammad sudah diperkenalkan tentang bisnis oleh pamannya, Abu Thalib, dengan cara diikutsertakan dalam perjalanan bisnis ke Syiria. Pengalaman perdagangan (magang) yang diperoleh Muhammad dari pamannya, selama beberapa tahun menjadi modal dasar baginya disaat memutuskan menjadi pengusaha muda di Mekkah. Beliau merintis usahanya dengan berdagang kecil-kecilan di sekitar Ka’bah.

Menjelang masa kenabian (berumur 38 tahun) di mana waktunya banyak dihabiskan untuk merenung, beliau telah sukses menjadi pedagang regional. Di mana wilayah perdagangannya meliputi Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Jazirah Arab lainnya.

Dan jika kita kesulitan menemukan bagaimana memimpin pasukan perang dan memenangkan pertempuran dari Nabi Ibrahim, kita temukan dalam diri Rasulullah. Serial peperangan lebih dari 60 kali di masa Rasul dan dimenangkan oleh beliau bukan hanya karena doa tanpa strategi. Dan Rasulullah adalah ahli strategi perang dan kita temukan juga dalam diri para sahabat Radhiyallahu Anhum.

Apabila kita juga kesulitan menemukan bagaimana cara mengatur keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah dari Nabi Isa dan Musa Alaihimassalam, maka dengan mudah kita temukan dalam diri Nabi Muhammad, karena beliau adalah ahlinya.

Betapa banyak hari ini orang sukses menjadi menteri, gubernur, direktur, manajer dan sebagainya tapi keluarganya berantakan. Anak dan istrinya tidak jelas aqidah dan akhlaknya. Tapi tidak dengan baginda rasul dan para sahabat. Mereka sukses di kancah pertempuran, sukses memimpin Negara dan juga sukses dalam memimpin keluarga.

Jika generasi hari ini lebih akrab dengan selebritis dan sangat jauh dari keteladaan nabi dan para sahabat, inilah yang harus kita sesalkan.

Pemateri pernah diminta menyampaikan materi “Mengetahui Rasul” di kawasan puncak Mega Mendung. Peserta berjumlah 50 dari sebuah SMA Akselerasi dari Jakarta. Kemudian saya (pemateri) mengatakan kepada para peserta “silahkan tulis nama-nama artis dalam waktu lima menit”. Apa hasilnya? Ada diantara mereka yang menulis enam puluh nama artis.

Kemudian pemateri menginstruksikan “silahkan tulis nama-nama para sahabat yang anda kenal dalam waktu enam menit”. Apa hasilnya? Peserta hanya mampu menulis lima belas nama sahabat, dan yang benar pun hanya delapan orang. Karena ada yang menulis imam Syafi’I, Hasan Al Bashri, Umar bin Abdul Aziz.., mereka ini bukan sahabat nabi.

Sebab yang dinamakan sahabat nabi adalah orang yang bertemu nabi, masuk islam dan wafat dalam keadaan muslim. Karena itu, Musailamah Al Kadzzab, Aswad al Insi tidak disebut sahabat walaupun ketemu nabi dan masuk islam, karena mereka mati dalam keadaan murtad.

Berdasarkan hasil ijtihad ulama’, sahabat nabi mencapai angka 100.000 lebih bahkan al-Hafidz Abu Zur’ah ar-Razi (guru Imam Muslim), beliau menegaskan bahwa jumlah sahabat ada 114.000 orang.

Tapi, itulah fakta hari ini, generasi kita lebih kenal dan dekat dengan para artis. Lalu apa yang terjadi? Yang menjadi idola dan teladan mereka adalah para selebritis. Dan apa yang bisa kita teladani dari para selebritis tersebut??

Berbeda dengan para sahabat, mau meneladani apa saja ada dalam diri para sahabat. Mau menjadi panglima perang, ada teladan Khalid bin Walid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Jarrah Radhiyallahu Anhum dan sebagainya. Mau menjadi negarawan, ada sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu. Mau menjadi politikus ada teladan dari sahabat Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhiyallahu Anhu. Ingin menjadi ahli diplomasi ada teladan dari sahabat ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu Anhu.

Ini sekedar pengantar tentang pentingnya mengenal para rasul dan para sahabat, selain untuk mengenal juga bertujuan untuk meneladani mereka, karena siapa tak kenal maka tak sayang.

 

Mari kita kenalkan para nabi dan sahabat kepada anak-anak kita. Agar mereka dekat dengan mereka sehingga idola dan teladan hidup anak-anak kita adalah para nabi dan sahabat Radhiyallahu Anhum.

 

Wallahu Ta’ala A’lam

(ddn/Darussalam.id)13521977_10206255024125760_5648983032760100454_n